Lanud Tanjungpinang Antisipasi Pergerakan Pesawat Militer Asing

Danlanud Sebut Pesawat Pengintai yang Jatuh di Batam Tidak Berbahaya
Oleh : Hadli
Selasa | 19-04-2016 | 18:46 WIB
IMG_20160419_102416.jpg
Danlanud Tanjungpinang, Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono  (Foto : Hadli)

BATAMTODAY.COM, Batam - Seringnya terjadi penerobosan teretorial udara Indonesia oleh pesawat militer dan komersil asing seperti milik Singapura menjadi perhatian serius TNI Angkatan Udara (AU).

Namun demikian Danlanud Tanjungpinang, Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono menuturkan, sejauh ini wilayah udara Kepri masih terbilang aman dari ancaman pihak asing, Selasa (19/4/2016).

"Tidak ada pesawat tanpa izin memasuki wilayah kita di Kepri. Adapun, karena kita wilayah perbatasan dengan Singapura, sesekali pesawat masuk namun balik lagi," ujarnya disela-sela kegiatan kepada warga Batu Besar, dalam rangka hari ulang tahun yang ke-70 TNI-AU di Asrama Lanut Tanjungpinang di Batam.

Masuknya pesawat militer Singapura pada wilayah udara Kepulauan Riau tambahnya, dikarenakan ruang lingkup negara tetangga itu sangat sempit. Tetapi para pilot asing itu meyadarai bahwa telah memasuki wilayah Indonesia sehingga pesawat itu balik kembali ke negara asalnya.

Pesawat asing yang memasuki tetorial Indonesia khusnya wilayah Kepri, diketahui oleh Lanud Tanjungpinang melalui fasilitas radar udara milik TNI AU yang berada di Tanjungpinang. Radar itu, tambahkan memiliki luas jangkauan meliputi Pekanbaru, Palembang, Kalimantan, sebagian Singapura dan Malaysia.

"Sehingga alat radar kita dapat mendeteksi ancaman yang akan masuk ke wilayah udara Kepri, Pekanbaru, Palembang dan Kalimantan Barat agar dapat kita antisipasi," tuturnya.

Wahyu juga menyampaikan, ke depan pesawat-pesawat asing yang masuk wilayah udara Kepri akan dicegah dengan cepat. Karena saat ini masih dalam pembangunan udara khusus di Ranai.

"Saat ini dalam tahap pembangunan. Nantinya ada beberapa pesawat cangging yang akan disiagakan di Lanud Ranai untuk antisipasi segala bentuk ancaman, termasuk kejahatan ilegal fishing di wilayah Natuna dan sekitarnya," ujarnya

Menangapai pesawat drone yang jatuh di wilayah perairan Batam beberapa dua minggu lalu, sudah diketahui hasil penelitiannya. Pesawat tanpa awak itu merupakan drone yang digunakan sebagai alat tembak sasaran oleh satuan militer.

Baca: Pesawat Pengintai Ditemukan Mengapung di Perairan Indonesia

Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono ini mengatakan, drone tersebut tidaklah berbahaya bagi pertahanan udara wilayah NKRI, mengingat Batam dan Kepri merupakan daerah perbatasan.

"Drone yang kemarin ditemukan itu tidak berbahaya bagi pertahanan wilayah udara kita. Melainkan itu hanya sebagai drone target (sasaran tembak-red) saja. Tidak ada tujuan mengintai atau yang lainnya," ujar Wahyu

Baca juga: Polda Kepri akan Kirim Temuan Pesawat Tanpa Awak ke Mabes Polri untuk Diteliti

Pesawat itu menurutnya tidak bertujuan untuk melakukan pengintaian atau berkaitan dengan yang membahayakan pertahanan RI. Hanya saja Wahyu enggan membeberkan pemilik pesawat drone tersebut.Yang jelas katanya lagi, drone target dengan jenis yang ditemukan kemarin itu hanya dimiliki oleh negara tetangga Malaysia dan Brunei.

‎"Drone yang harus diantisipasi itu dengan tinggi 30 ribu kaki dari tanah. Kalau yang kemarin itu sangat terbatas, karena hanya mampu terbang tiga hingga empat jam saja, setelah itu jatuh," ungkapnya.

Ia menuturkan, minim kemungkinan jika drone pengintai berwarna orange atau warna mencolok seperti itu. Drone tersebut katanya, digunakan oleh satuan militer sebagai sarana latihan.

Editor: Udin