Sakit Hati, Jadi Alasan Dua Pelaku Ini Bunuh Ros Duha
Oleh : Romi Chandra
Rabu | 14-10-2015 | 15:57 WIB
pembunuh-ros-duha.jpg
Dua pelaku pembunuhan Ros Duha saat diekspose kasusnya di Mapolresta Barelang. (Foto: Romi Chandra)

BATAMTODAY.COM, Batam - Hendra alias Ha (21) dan Malikul alias Lt (18), dua pelaku pembunuhan Ros Duha (58), pengusaha bar Mutiara di kawasan Telukpandan, Tanjunguncang, sudah tiba di Mapolresta Barelang setelah berhasil dibekuk di Medan dan Aceh.

Kapolresta Barelang, Komisaris Besar Adep Safrudin, saat ekspose mengatakan, aksi nekat kedua pelaku dikarekan unsur sakit hati pada korban yang sering berlaku kasar. "Pelaku tiba di Batam tadi malam. Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Motif pembunuhan ini karena sakit hati," kata Asep, Rabu (14/10/2015) siang.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan, diketahui Hendra lah yang menjadi otak dalam pembunuhan tersebut. Sementara kronologis kejadian sendiri, berawal saat korban meminta jemput pada sopir pribadinya, Hendra, Senin (5/10/2015) malam. "Saat menjemput korban, Hendra membawa temannya, Malikul. Ia juga mengatakan pada Malikul akan membunuh korban yang mereka panggil ibu," kata Asep.

Malikul mau ikut aksi itu, karena ia beralasan takut ditinggal sendiri dan belum mengenal Batam. Ia baru juga baru sebulanan di Batam. "Sebelum berangkat, mereka memotong tali jemuran di belakang bar, tempat tinggal Ros bersama anak, menantu dan enam orang pramurianya," lanjut Asep.

Saat korban masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku depan, ia langsung marah-marah pada Hendra menanyakan kenapa Malikul juga ikut, seharusnya ia berada di bar. Omelan dengan kata-kata kasar tersebut terus keluar dari mulut korban hingga mobil melaju meninggalkan lokasi.

Baru saja meninggalkan lokasi, Malikul yang duduk di belakang langsung menjerat leher korban dengan kencang, hingga akhirnya ia meregang nyawa. "Kemudian mereka langsung membawa mayat korban ke Bukit Harimau dan membuangnya di pinggir jalan. Sementara tas korban yang berisikan uang 5.000 dolar Singapura serta beberapa unit HP mereka ambil. Setelah membuang mayat tersebut mereka kembali ke Sintai," terangnya.

Sampai di lokasi, cucu korban mendapati kalau Hendra dan Malikul turun berdua saja. Sedangkan ia tidak melihat neneknya. Kemudian cucu korban menanyakan dimana neneknya, dan Hendra menjawab kalau korban tidur di tempat kateringnya di Sagulung.

Paginya, setelah mengantar cucu korban pergi sekolah, Hendra dan Malikul langsung menuju Bandara Hang Nadim dan membeli tiket pesawat tujuan Medan. "Setiba di Medan mereka berpencar. Hasil pengejaran yang dilakukan, satu pelaku dibekuk di Medan dan satunya lagi di Aceh," jelas Asep.


Selain itu, aksi pembunuhan ini sudah dua kali mereka rencanakan, dan kali kedua baru berhasil. "Aksi pertama itu, dua hari sebelum kejadian, tapi gagal, karena Malikul yang ditugaskan untuk menjerat leher korban belum berani. Setelah sepakat untuk kembali mencoba menghabisi nyawa korban, aksi yang kedua akhirnya berhasil," tambahnya lagi.

Sementara Hendra, otak dari pembunuhan ini, mengaku sakit hati pada korban yang selalu berkata kasar padanya. "Mulutnya pedas, mas. Saya sering dimaki-maki. Bahkan saya juga dipukul pakai kayu. Siapa yang tidak sakit hati. Sudah tiga bulan saya jadi sopirnya, tapi sama sekali belum digaji," ungkapnya.

Ia juga mengakui, uang korban yang mereka ambil tersebut digunakan untuk biaya melarikan diri. "Kami memang mau kabur, tapi akhirnya ketangkap juga. Rasa menyesal pasti ada, mas. Tapi ini kan udah kejadian," ucapnya pasrah.

Kedu pelaku saat ini masih harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan ditahan di tahanan Polresta Barelang. Mereka dijerat pasal 340 juncto 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman 20 tahun penjara, seumur hidup atau hukuman mati.

Editor: Dodo