Pelabuhan Kayu Memprihatinkan

Masyarakat Berharap Kapal Feri Tujuan Anambas Bersandar di Pelabuhan Beton
Oleh : Fredy Silalahi
Jum\'at | 23-03-2018 | 09:50 WIB
pel-kayu.jpg
Seperti inilah kondisi pelabuhan kayu tempat turun naikknya penumpang kapal feri di Pulau Jemaja, Anambas. (Foto: Fredy Silalahi)

BATAMTODAY.COM, Anambas - Masyarakat Pulau Jemaja mengkhawatirkan keselamatan para penumpang kapal feri cepat Tanjungpinang - Anambas yang berada di Kecamatan Jemaja. Pasalnya, feri cepat tersebut berlabuh di pelantar kayu milik warga yang kondisinya memprihatinkan.

"Kita khawatir pelantar kayu yang dijadikan tempat berlabuh feri itu ambruk. Kalau sudah terjadi kecelakaan siapa yang bertanggungjawab," kata Gusdi salah satu tokoh pemuda Kecamatan Jemaja, Jumat (23/3/2018).

Gusdi menerangkan, Pulau Jemaja memiliki tiga pelabuhan beton. Menurutnya, feri cepat tersebut lebih baik berlabuh di pelabuhan beton yang sudah disediakan pemerintah.

"Saat ini fungsi pelabuhan beton hanya digunakan untuk bongkar muat, sementara bagi penumpang belum bermanfaat. Apa salahnya bila feri berlabuh di pelabuhan beton yang keselamatannya terjamin," jelas Gusdi.

Sementara, Syahbandar Kecamatan Jemaja, Ponco menjelaskan, pihaknya tidak berani membuat kebijakan untuk labuhnya feri cepat di pelabuhan beton.

"Pertimbangannya yakni pemilik feri tidak mau bersandar di Pelabuhan Pemda karena alurnya terlalu sempit dan berpotensi merusak lambung feri. Kemudian di Pelabuhan Berhala yang dibangun Pemerintah Pusat terlalu tinggi dan masyarakat yang mengeluh," jelasnya.

"Kalau beresiko, semua memiliki resiko. Namun lebih beresiko ketika feri sandar di Pelabuhan Berhala ketimbang di pelantar kayu. Sehingga kita ambil titik tengahnya feri sandar di pelantar kayu," tambah Ponco lagi.

Ponco menyinggung, terkait kondisi pelantar kayu memang memprihatinkan. Namun menurutnya itu merupakan tanggung jawab antara pemilik feri dan pemilik pelantar.

"Kita ingin memperbaiki pelantar itu, tetapi itu merupakan pelantar pribadi. Sehingga kita tidak berani membangun. Kita sudah pernah mengajukan agar pelantar kayu itu direnovasi, namun belum ada realisasi antara pemilik feri dan pemilik pelantar," katanya.

Editor: Gokli