Pulau Setokok Barelang

BP Batam Serahkan Lahan 9,8 Hektar untuk Pembangunan Lapas Khusus Wanita
Oleh : Nando Sirait
Jum\'at | 11-05-2018 | 14:04 WIB
lukita-lagi11.jpg honda-batam
Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo. (Foto: Dok Batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam menyerahkan lahan seluas 9,8 hektar kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum dan HAM) untuk pembangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Wanita di Pulau Setokok.

"Permintaan lahan ini datang dari Kemenhum dan HAM dari awal tahun ini, kalau saya tidak salah pengajuan permintaan lahan untuk pembangunan Lapas khusus wanita masuk di bulan Februari," ujar Kepada BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo, Jumat (11/05/2018).

Tidak hanya untuk pembangunan Lapas khusus wanita saja, adanya permintaan lahan yang tergolong luas ini juga akan digunakan oleh pihak Kementerian guna membangun fasilitas Balai Diklat.

Lukita juga menambahkan, sesuai dengan usulan yang dilakukan oleh Kementerian, pihaknya memberikan lahan yang berada di Pulau Setokok atau yang berada di wilayah Jembatan 3 Barelang.

"Saya rasa posisinya sudah pas apabila untuk dibangun menjadi Lapas, karena disana kan jauh dari mana-mana. Lagipula untuk lahan itu sendiri merupakan permintaan langsung dari Kementerian. Jadi saya rasa pasti sudah dikaji terlebih dahulu untuk pembangunan fasilitas pendukung di sana nantinya," lanjutnya.

Sebelumnya Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Provinsi Kepulauan Riau akan mengevaluasi Rumah Tahanan (Rutan) Baloi di Kota Batam dan meminta agar dilakukan pemisahan antara warga binaan perempuan dengan anak-anak.

"Kita akan agendakan untuk mengevaluasi Rutan Baloi karena kami mendengar di sana digabungkan antara perempuan dan anak-anak," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Ombudsman Provinsi Kepri, Achmad Irham Satria beberapa waktu lalu.

Irham mengatakan sampai saat ini pihaknya belum dapat memastikan kapan akan mengunjungi Rutan Baloi. Namun, menurutnya dia pemisahan dilakukan guna menghindari hal-hal yang tidak inginkan. "Kita berharap bisa dipisahkan (warga binaan antara perempuan dengan anak-anak)," ujarnya.

Editor: Yudha