Meresahkan Warga Sekitar

Batam Monitoring Desak DLH Usut Penimbunan Limbah B3 di Tanjunguncang
Oleh : Yosri Nofriadi
Sabtu | 21-04-2018 | 09:04 WIB
limbahbagaman1.jpg honda-batam
Ini lokasi yang diduga jadi tempat penimbunan limbah B3. (Foto: Yosri)

BATAMTODAY.COM, Batam - Adanya dugaan penimbunan limbah komponen elektronik dan karet di bekas perusahaan scrab di Tanjunguncang, Batuaji, dekat Perumahan Bagaman, mendapat perhatian serius dari LSM Batam Monitoring.

Direktur Eksekutif Batam Monitoring, Lamsir L. Raja, yang mengaku sudah turun ke lapangan, mendesak Dinas Lingkungan Hidup kota Batam, mengusut penimbunan limbah B3 tersebut.

"DLH Kota Batam harus segera bertindak, karena penimbunan limbah B3 seperti ini sangat berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan warga sekitar," ungkap Lamsir, Sabtu (21/4/2018) pagi.

Sebelumnya, warga Perumahan Bagaman, dekat lokasi penimbunan itu, sangat mengeluhkan adanya penimbunan limbah di dekat perumahan mereka. Warga khawatir berdampak buruk bagi lingkungan tempat tinggal mereka.

Pantauan di lokasi, Jumat (20/4/2018), tumpukan limbah komponen elektronik dan karet di bekas perusahaan scrab di Tanjunguncang, Batuaji, dekat Perumahan Bagaman, sudah tidak terlihat lagi. Limbah mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) itu diduga sengaja ditimbun pemiliknya di lokasi tersebut.

Area bekas tumpukan limbah tersebut kini sudah diratakan dan ditimbun tanah. "Iya, sepertinya sengaja ditimbun. Lihat saja ke sana sudah diratakan dengan tanah. Baru tadi pagi saya lihat. Mungkin sudah seminggu ini mereka timbun," ujar Nedi, warga perumahan Bagaman, Tanjunguncang.

"Lokasi timbunan limbah itu lebih tinggi dari perumahan kami. Nanti resapan air ngalir ke perumahan ini. Selama ini sudah cukup mengganggu kami, sekarang malah ditimbun," ujarnya.

Sebelum limbah tersebut ditimbun, katanya, warga sudah berulang kali komplain karena berdampak buruk bagi lingkungan tempat tinggal warga di sana. Pihak perusahaan atau pemilik limbah kerap membakar tumpukan limbah elektronik dan karet tersebut sehingga asap yang cukup menyengat menyebar hingga ke pemukiman warga.

Selain itu, Nedi menambahkan, saat hujan warga perumahan mereka gatal-gatal karena terkontaminasi dengan aliran air yang mengalir dari rumpukan limbah tersebut.

"Airnya berwarna merah, kalau kana kulit langsung gatal-gatal. Air dari lokasi tumpukan limbah itu memang ngalir ke sini perumahan Bagaman jadi kami tak bisa ngelak," ujarnya.

Apalagi, katanya, lokasi timbunan limbah itu lebih tinggi dari perumahan warga. Nanti resapan air ngalir ke perumahan ini. "Selama ini sudah cukup mengganggu kami, sekarang malah ditimbun," ujarnya.

Editor: Udin