Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Siapa yang Bermain?

Permainan BBM Ilegal di Perairan Bintan Jadi Tontonan Saat Nelayan Kesulitan Dapatkan Solar
Oleh : Harjo
Selasa | 09-08-2022 | 12:48 WIB
isi-solar.jpg Honda-Batam
Aktivitas pengisian solar ke kapal besar hingga puluhan ton di Perairan Bintan. (Ist)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Nelayan Bintan saat ini tengah kesulitan mendapatkan BBM jenis solar, untuk kebutuhan melaut. Jeritan nelayan kepada pemerintah belum berbalas karena solar subsidi masih saja sulit mereka dapatkan.

Nelayan Bintan --yang menggantung hidup dari menangkap ikan, tentunya harus pergi melaut baru dapat ikan. Namun, jika solar tidak ada, mereka terpaksa harus menunda pergi melaut. Padahal kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi tanpa mengenal kata tunda.

Mirisnya, di tengah sulitnya mendapatkan solar, para nelayan itu malah disuguhi tontotan permainan BBM ilegal di perairan Bintan Pesisir. Aktivitas pengisian solar ke kapal besar hingga puluhan ton hanya bisa mereka pandangi tanpa bisa berbuat apa-apa. Aksi para pemain solar itu pula yang membuat hati para nelayan Bintan kian teriris.

"Saat kami kesulitan untuk mendapatkan BBM untuk berangkat melaut, justru kapal besar bisa memenuhi kebutuhan hingga puluhan ton. Kami hanya bisa menonton mereka di saat mengisi BBM di laut," ungkap salah seorang nelayan Bintan, yang meminta namanya tidak dipublikasi, Selasa (9/8/2022).

Kendati sumber mengatakan tontonan pengisian maupun transfer minyak di periaran Bintan bukan lagi hal yang baru, namun belakangan ini dilakukan secara terang-terangan.

"Sementara kami (nelayan) jika pun dapat BBM paling banyak 1/4 dari kebutuhan. Padahal katanya ada kuota solar untuk nelayan, entah ke mana perginya dan entah siapa yang bermain," ungkap dia.

Sebelumnya, Lambela, salah seorang nelayan yang juga tokoh masyarakat Pulau Kelong, mengatakan, saat ini sebagian besar nelayan yang ada di wilayah Bintan Pesisir kesulitan mendapatkan BBM jenis solar bersubsidi.

"Kita selalu menunda ke laut hingga berminggu-minggu, karena saat sulitnya mendapatkan BBM. Kalau untuk kapal ukuran 20 GT, kalau pun ada justru bisa membeli hanya sekitar 50 persen dari kebutuhan. Begitu, yang terjadi pada nelayan yang memiliki kapal 5 GT atau kecil," katanya, Sabtu (6/8/2022) lalu.

Editor: Gokli