Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Nelayan Terdampak Proyek Folder Minta Ganti Alat Tangkap, Bukan Uang Rp 100 Ribu
Oleh : CR-3
Senin | 18-10-2021 | 16:37 WIB
Miswanto-nelayan-Pemuda.jpg Honda-Batam
Ketua KUB Nelayan, yang terdampak proyek folder di Jalan Pemuda Tanjungpinang, Miswanto saat ditemui di depan Kantor Dinas PUPR, Senin (18/10/2021). (Foto: Devi Handiani)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Proyek folder di Jalan Pemuda Tanjungpinang yang saat ini dikerjakan pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya banjir, berdampak buruk bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan di sekitar pekerjaan proyek itu.

Nelayan mengaku sejak proyek itu dimulai, hasil tangkapan mereka menurun drastis. Sebab, penimbunan bakau dengan bauksit mengakibatkan air laut jadi keruh yang juga membuat ikan semakin sulit didapat para nelayan.

"Kami sudah merasakan selama 4 - 5 bulan ini, mau sampai kapan kami harus begini? Untuk itu kami minta solusi kepada pemerintah memberikan jalan keluar terhadap nelayan di pesisir. Dampak lingkungan yang kami rasakan adalah lumpur bauksit sehingga air menjadi merah jadi ikan maupun udang enggan ke tepi lagi. Untuk bisa menjadi normal membutuhkan waktu lama sekitar 2 tahun," kata Miswanto, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan, saat berada di Kantor Dinas PUPR Tanjungpinang, Senin (18/10/2021).

Ia menambahkan, sebelum adanya proyek folder, nelayan di sana masih bisa mendapat ikan 4 Kg lebih per harinya, tetapi sekarang hanya 1 Ons, pun terkadang tidak ada. "Kami berharap Pemko Tanjungpinang bisa mengganti alat tangkap kami walaupun tidak bisa mencari di darat, tetapi kami bisa mencari di laut," pinta dia.

Masih kata Miswanto, pemerintah belum pernah turun melihat dampak yang dirasakan nelayan. "Kami yang melaporkan kasus ini, dan diberikan Rp 12 juga untuk 120 orang. Kami merasa itu bukan jalan keluar, yang kami butuhkan alat tangkap ikan, bukan uang Rp 100 ribu," jelasnya.

Dikatakan Miswanto, para nelayan yang terdampak proyek folder cukup paham bahwa Pemko Tanjungpinang minim anggaran. Namun, di sisi lain, Pemko Tanjungpinang juga memahami kondisi nelayan yang kehilangan mata pencaharian.

"Uang Rp 12 juta untuk 120 orang itu diberikan Kamis lalu. Uang Rp 100 ribu tak cukup untuk memenuhi hidup nelayan dan kami minta alat tangkap, bukan uang," tutupnya.

Editor: Gokli