Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Berjuang Demi Kesembuhan Putrinya, Baha Merasa Jadi Orang Asing di Negeri Sendiri
Oleh : Harjo
Jumat | 24-09-2021 | 11:33 WIB
puji-rahayu11.jpg Honda-Batam
Puji Rahayu (7) penderita thalasemia atau kelainan darah saat menunjukan perut yg mulai mengeras bersama orangtuanya. (Harjo/BTD)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Baha (43), warga Bintan yang sudah bersomisili sekitar 23 tahun di Tanjunguban, ternyata belum dapat dukungan dari pemerintah daerah dalam memperjuangkan kesembuhan anaknya Puji Rahayu (7).

Bahkan untuk mendapatkan surat keterangan domisili guna pengurusan anaknya yang mengalami kelainan darah (thalasemia) sejak usia 3 bulan, sulit diwujudkannya.

Untuk mendapatkan surat keterangan bahwa memang benar keberadaanya atau saat ini berdomisili di wilayah Tanjunguban, mulai dari ketua RT, Lurah hingga Camat terkesan mengelak.

Padahal, Baha bukan tidak memiliki dasar atau bukti diri sebagai warga negara Indonesia, karena dia dan istrinya memiliki KTP yang dikeluarkan pemerintah Jawa Barat.

"Sejak anak terdeteksi mengidap kelainan darah, dan hampir rutin setiap 10 hari harus transfusi darah karena darah merahnya berkurang, kami jadi tidak memiliki waktu untuk mengurus administrasi kependudukan dari daerah asal. Kalau memilih antara mengurus administrasi dan nyawa anak dan kesehatan anak, jelas mendahulukan memperjuangkan kesehatan anak," ungkap Baha kepada BATAMTODAY.COM saat berkunjung ke rumahnya di Tanjunguban, beberapa hari yang lalu.

Baha merasa dijadikan orang asing di negara yang terkenal menjunjung tinggi adat dan budaya tinggi serta kesetiakawanan sosial bahkan jiwa gotongroyong yang ditanamkan secara turun temurun.

Namun kenyataannya, pemerintah mulai tatanan terbawah harusnya mencarilkan solusi, terksesan semua cuci tangan tanpa melihat dari sisi kemanusian.

"Saat ini teknologi sudah maju, semua serba online dan tidak terbatas komunikasi terutama antar pemerintah daerah dan pemerintah daerah ke pusat. Rasanya ada yang aneh, hanya administrasi kependudukanhingga bertahun-tahun tidak ada solusinya, karena kami sudah memohon dan menyampaikan kondisi yang dialami," keluhnya sambil memperlihatkan anaknya yang kondisi dan perkembangannya, terlihat berbeda dengan anak seusianya.

Walaupun demikian, kata Baha, dia masih berharap nantinya masih ada pejabat di negara ini, yang memiliki kepedulian yang mengutamakan dari sisi kemanusian. Sebaliknya ditengah perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga dan berusaha bekerja walau pun jauh daripada cukup, terus memperjuangkan anaknya setidaknya bisa berjuang untuk hidup.

"Kalau antara pendapatan hasil kerja serabutan setiap hari hanya bisa maksimal Rp 100 ribu, sedangkan untuk kebutuhan membawa anak berobat setidaknya harus menyiapkan uang minimal Rp 2 juta, setiap 10 hari selama rawatan minimal 2 hari," paparnya.

Sehingga tidak heran kalau setiap membawa anak berobat, KTP menjadi jaminan karena terpaksa berhutang di rumah sakit, belum lagi hutang ke tetangga dan rekan. Mirisnya lagi, saat hutang lunas anak sudah butuh transfusi darah kembali.

"Kami pun tidak tahu, sampai kapan nasib kami seperti ini. Mungkinkah ada keajaiban nantinya, melalui para pejabat yang terpanggil sehingga muncul rasa kepedulian ada solusinya. Sehingga perjuangan anak kami untuk sehat bisa lebih maksimal," harap Baha yang diamini oleh Noni istrinya, sambil tertunduk sedih.

Editor: Yudha