Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pasca-Rusaknya Jembatan VI Barelang

Jalur Darat Terhambat, Warga Pilih Jalur Laut
Oleh : Gokli/Dodo
Senin | 11-06-2012 | 18:43 WIB

BATAM, batamtoday - Rusaknya Jembatan VI Barelang membuat sebagian warga Galang Baru dan Pulang Abang terhambat dalam mengirim ikan hasil tangkapan ke kota Batam. 

Namun, karena keterhambatan tersebut warga yang mayoritas nelayan terpaksa menggunakan jalur laut meskipun tak semaksimal menggunakan jalur darat. Hal ini membuat kekhawatiran tersendiri bagi warga pulau tersebut.

Menurut informasi yang dihimpun batamtoday, karena rasa khawatir warga terkendalanya transportasi darat disebabkan Jembatan VI mengalami kerusakan ditabrak kapal APC Aussie 1 beberapa hari lalu, warga Galang Baru pun dikabarkan akan mendatangi Kantor Wali Kota Batam untuk mempertanyakan masalah pembangunan jembatan tersebut. 

Akan tetapi, informasi itu dibantah oleh Lurah Galang Baru, Zulkarnaen saat dihubungi batamtoday mengatakan informasi tersebut hanya isu semata. Bahkan warganya sampai saat ini belum membuat pemberitahuan akan melakukan aksi demo.

"Itu tidak pak, hanya isu saja. Beberapa warga yang saya tanya tak ada yang membenarkan akan mengadakan aksi. Bahkan laporan dari warga juga belum ada sama saya," jelas Zulkarnaen kepada batamtoday.

Ditambahkannya, Jembatan VI yang rusak saat ditabrak kapal tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dengan tonase rendah. Hal inilah menjadi keluhan warga di Pulau Galang Baru karena terkendalanya transportasi darat.

"Saya rasa keluhan warga hanya masalah tidak lancarnya akses pengiriman ikan lewat jembatan. Tapi, warga tetap mengupayakan (pengiriman-red.) lewat laut. Sementara jembatan masih bisa dilalui sepeda motor dan mobil tonase ringan," papar dia.

Sementara itu, salah seorang warga saat dihubungi batamtoday, Hanafi mengaku tak tahu kalau warga lain berencana akan mengadakan aksi. Sejauh ini, kata dia masyarakat di Pulau Galang Baru yang mayoritas nelayan mengeluhkan masalah Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sangat sulit didapat.

"Saya sendiri malah tak tahu mas kalau ada rencana warga akan demo. Tapi, memang kami nelayan di pulau ini mengeluh masalah pasokan BBM," sebutnya.