PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Aktifkan Puskesmas Keliling

Sebelum Korban Covid-19 Makin Banyak, Batam dan Kepri Saatnya Karantina Wilayah
Oleh : Hadli
Selasa | 31-03-2020 | 18:40 WIB
1-7.jpg honda-batam
Peta wilayah Provinsi Kepri nomor 1-7. (symbianplanet.net)

BATAMTODAY.COM, Batam - Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, seprti Singapura dan Malaysia, Kota Batam maupun Provinsi Kepri bukan hal yang tabu untuk memberlakukan karantina wilayah atau lockdown di saat virus corona mulai mewabah.

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif LSM Green & Clean, Wibowo. Di mana, menurutnya, pemerintah daerah harus cepat dalam mengambil keputusan, dengan menghentikan suluruh aktivitas pintu masuk orang internasional dan domestik antar provinsi maupun daerah.

Karantina wilayah, kata dia, saat ini sangat tepat memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 agar tak menyebar semakin luas dan memakan korban lebih banyak lagi.

"Tujuannya agar tidak ada lagi korban yang tertular virus corona. Dari data tabel yang di-update Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Senin (30/03/2020), sudah ada 6 orang yang positif Covid-19," kata dia, Selasa (31/3/2020).

Tiga di antaranya warga Batam, dua Tanjungpinang serta satu warga Tanjungbalai Karimun. Sementara lima orang telah meninggal, di Batam dua orang dengan status positif Covid-19, tiga lainnya PDP negatif Covid-19 serta PDP on proses lab satu orang di Tanjungpinang dan satu di Tanjungbalai Karimun.

"Karantina wilayah harus dilakukan mengingat situasi saat ini sudah tidak lagi memungkinkan untuk tetap bertahan pada zona orange. Jangan tunggu korban bertambah banyak lagi, pemimpin daerah ini baru bersedia menutup pintu. Sekarang saatnya tutup," tegas Wibowo.

Seluruh pintu pelabuhan dan bandara ditutup, menurutnya sangat efektif untuk menghentikan penyebaran Covid-19 di Batam, umunya Kepri agar wabah ini tidak semakin meluas dan korban jiwa tidak lagi bertambah.

"Yang ditutup pintu akses orang, bukan barang. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir apalagi panik dengan kebutuhan pokok," ujarnya.

Sejalan dengan hal ini, dia menilai seluruh instansi pemerintahan wajib menyediakan satu set pencuci tangan dan bilik sterilisasi yang dapat membunuh bakteri maupun virus.

Alat pencuci tangan satu set dan bilik sterilisasi, katanya, saat ini yang paling efektif melakukan pencegahan selain dilakukan penyemprotan disinfektan di tiap-tiap jalan protokol, fasilitas umum, masjid di Kepri seperti yang gencar dilakukan pihak Polda Kepri dan jajaran Polres.

"Uang sumbangan dari para pengusaha yang digalang Wali Kota Batam Muhammad Rudi, beberapa waktu lalu, kurang lebih Rp 11 miliar, hendaknya segera dibelikan alat kesehatan untuk masyarakat dan pembuatan bilik steriliasi untuk digunakan di tempat tempat fasilitas umum mauapun kawasan industri," tuturnya.

Bowo menilai, jika penanganan pencegahan virus Covid-19 tidak disigapi para pimpinan daerah, wabah tersebut akan terus menyebar. Apalagi, kata dia, beberapa korban, baik itu orang dalam pantauan maupun berstatus pasien dalam pantauan terjangkit setelah pulang dari negara luar dan beberapa daerah seperti dari Jakarta dan Bogor.

Selain itu, pengiriman TKI yang masuk ke Kepri khususnya Batam, selayaknya proses penanganan medis dilakukan dengan SOP yang ketat. Satupun dari mereka tidak boleh dipulangkan lagi seperti yang telah terjadi, satu orang baru diketahui telah terpapar.

Mereka, tambah dia, harus dikarantina sembari pemeriksaan kesehatan terus dilakukan dengan ekstra. Tidak bisa lolos begitu saja.

"Para pekerja migran yang dipulangkan saja ada yang telah terpapar, bagaimana dengan para imigran Indosnesia yang pulang dengan status ilegal. Siapa yang bertanggungjawab? Tetapi masyarakat yang menerima resikonya," kata dia.

Selain itu juga, upaya pencegahan lebih jauh selain menyemprotkan cairan disinfektan di jalan, rumah ibadah, serta fasilitas umum lainnya, petugas Puskesmas harus lebih diaktifkan Wali Kota Batam jangan mengandalkan Polisi dalam melakukan pencegahan.

"Puskesmas keliling dari satu perumahan ke perumahan lain lebih efektif upaya dini melakukan pencegahan. Masa iya semuanya harus Polisi yang bergerak, mana kepala daerahnya?" tandasnya.

Editor: Gokli