PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Daya Dukung Lingkungan Wisata Menjadi Concern Ekonomi Sirkular
Oleh : CR-1
Sabtu | 16-11-2019 | 14:16 WIB
karimun-jawa.jpg honda-batam
Wisata air di Karimun Jawa. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Daya dukung lingkungan kegiatan pariwisata merupakan salah satu concern dan poin terpenting pada upaya identifikasi tantangan dan potensi ekonomi sirkular (circular economy) di Indonesia.

Dilema antara kepentingan ekonomi dan sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan) diatasi dengan edukasi untuk wisatawan dalam negeri maupun mancanegara.

"Kita perlu memperhitungkan kapasitas lingkungan di tengah jor-joran mendatangkan wisatawan, (pariwisata) dianggap penyumbang devisa terbesar di Indonesia," ujar Direktur Eksekutif Greeneration Foundation Vanessa Letizia.

3rd Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) yang digelar pada 11-12 Nopember 2019 di Jakarta. Transisi dari konsep linear menjadi Ekonomi Sirkular adalah satu-satunya langkah menuju masa depan. Ekosistem bumi sudah menanggung beban yang begitu besar. Saat ini manusia telah menggunakan sumber daya bumi sebanyak 1,7 kali dari yang dapat digantikan secara alami.

"Sector jasa pariwisata bisa diatur. Ketika wisatawan masuk ke satu areal wisata, (pemandu) bisa mengedukasi lebih dulu. Kita tetap mendorong pariwisata di Indonesia. Wisatawan berdatangan, hal ini bagus dari sisi ekonomi Indonesia. Tapi (wisata) jor-joran, beresiko terhadap lingkungan, (hal ini) perlu pembatasan. Kapasitas lingkungan harus diperhitungkan. Edukasi mulai dari yang sederhana, misalkan (wisatawan) tidak menginjak-injak karang pada waktu diving (menyelam), snorkeling," papar Letizia.

Di tempat yang sama, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Vincent Piket menilai bahwa eksploitasi modal alam berujung pada ketimpangan terhadap generasi masa depan. Ekonomi sirkular menjadi elemen utama dalam kegiatan industry dan strategi ekonomi Uni Eropa.

Di tengah dunia dengan sumberdaya terbatas ini, transisi menuju ekonomi sirkular sangat mungkin terjadi juga di Indonesia. “Kita dapat bekerjasama untuk mempercepat dan memfasilitasi perubahan tersebut, bersama-sama,” kata Vincent Piket pada konferensi pers di Jakarta.

Ekonomi sirkular merupakan pendekatan yang strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan mendapat perhatian besar dunia karena dipercaya dapat membantu mencapai 134 target dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Forum kali ini mengangkat tema “Towards a Sustainable Future through Circular Business Practices”, akan dihadiri oleh sekitar 400 peserta yang terdiri dari pejabat tinggi pemerintah, dunia industri dan sektor swasta, akademisi, praktisi profesional, dan pemangku kepentingan terkait lainnya.

ICEF 2019 juga disponsori oleh Pemerintah Norwegia, Pemerintah Denmark, Pemerintah Belanda dan the Academy of Medical Sciences. Forum tahun ini juga mendapat dukungan dari dari Pemerintah Finlandia, Waste4Change, PRAISE, Systemiq, Universitas Indonesia, Coventry University, Blue Economy Foundation, Global Compact Network, GIZ, IATL ITB, MVB, McKinsey.org dan Napindo.

Di tempat berbeda, pengusaha resort Karimunjawa (Jepara, Jawa Tengah) Minarto mengaku tidak berharap banyak keuntungan dari bisnis wisata. Selain factor persaingan antara pemilik resort, bisnis wisata juga butuh modal banyak.

"Saya sudah lama bergelut (kegiatan kemaritiman, pariwisata) Karimunjawa, tepatnya sejak tahun 1980 an. Saya merasakan sulitnya. Salah satunya, saya mengusulkan perlunya syahbandar untuk Karimunjawa. Tetapi belum ada realisasi," jelas Minarto.

Daya dukung lingkungan, terutama pasokan air bersih untuk wisatawan juga bukan perkara mudah. Wisatawan yang suka snorkeling masih sering menginjak-injak terumbu karang.

Karimunjawa dulunya sangat dikenal dengan penangkaran hiu di pulau Menjangan Besar. Wisatawan seakan diajak menguji adrenalin ketika berenang dengan hiu di kolam penangkaran. Wisatawan sering merasa penasaran kalua tidak berenang bersama hiu selama liburan di Karimunjawa.

"Dulu ada 100 ekor hiu (di penangkaran), dan makan ikan-ikan kecil. Tetapi ikan di Karimunjawa sudah terkena potassium (racun ikan yang mengandung sianida). Akibatnya, karangnya juga mati terkena potassium," tegas Minarto mengakhiri.

Editor: Dardani