PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemarau Panjang, Petani Anambas Banting Setir Jadi Nelayan
Oleh : Alfredy Silalahi
Rabu | 21-08-2019 | 09:40 WIB
sawah-kering1.jpg honda-batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Anambas - Aktivitas petani di Pulau Jemaja mengalami penurunan selama dua bulan terakhir ini. Dan diakui kemarau yang berkepanjangan menjadi penyebab utamanya. Hal ini membuat petani tiba-tiba beralih menjadi nelayan.

"Aktivitas petani sudah turun, karena lahan kekeringan. Dan sebagian ada warga yang sempat melanjutkan bercocok tanam, tetapi harus bekerja ekstra. Kalau tidak, akan berdampak pada gagal panen," ujar Mudahir, Ketua KNPI Kecamatan Jemaja, Selasa (20/8/2019).

Hal yang sama juga disampaikan salah satu warga Kecamatan Jemaja Timur, Edi mengakui aktivitas bercocok tanam menurun, akibat kemarau yang berkepanjangan. Selain itu irigasi juga tidak beroperasi.

"Penanam padi, jagung dan cabai di Jemaja Timur turun drastis akibat lahan kering. Kemudian irigasi yang sebelumnya diharapkan warga sebagai pengairan lahan bercocok tanam tidak beroperasi," ucapnya.

Edi mengamati, kalau sejumlah petani banyak yang beralih profesi. Hal tersebut diakui sebagai jalan pintas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Ada sebagian warga bekerja di kebun durian, dan tak jarang juga petani pergi melaut," ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Kepulauan Anambas, Effi Sjuhairi mengakui kalau aktivitas petani menurun di Pulau Jemaja akibat kemarau berkepanjangan.

"Sebelumnya ada sejumlah kelompok tani yang kita bina untuk menanam padi dan cabai. Untuk itu sudah panen. Tetapi ada sebagian petani yang melanjutkan penanaman cabai, itu harus kerja ekstra agar tanaman tetap tumbuh. Dan sampai sekarang kami belum mendapat laporan terkait itu," ucapnya.

Mengenai irigasi, lanjut Effi, memang mengalami kerusakan dan debit air juga terbatas. Sehingga tidak bisa mengairi lahan petani.

Ada empat titik mesin irigasi yang rusak, itu yang sedang kita usahakan untuk diperbaiki. Memang pun, debit air lagi tipis karena kemarau berkepanjangan.

"Memang kita sudah menobatkan Pulau Jemaja sebagai wilayah yang layak bercocok tanam, dan sudah kita tetapkan Pulau Jemaja menjadi lumbung padi Anambas. Namun atas kondisi ini, kami masih butuh waktu untuk memperbaiki mesin irigasi. Agar disaat musim kemarau, petani tetap bercocok tanam," jelasnya.

Editor: Yudha