PKP

Memberantas Virus Demokrasi dan Kebhinnekaan Bernama Hoax
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 12-07-2019 | 14:52 WIB
anti-hoax4.jpg honda-batam
Ilustrasi gerakan anti hoax. (Foto: Ist)

Oleh Bayu Rahman

DUNIA maya kita sedang dilanda penyakit hati. Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoaks, fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti.

Kabar burung datang silih berganti. Penyakit ini kini mewabah nyaris tak terperi. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, pada akhir 2016 terdapat sedikitnya 800 situs yang diduga menjadi produsen virus hoax, berita palsu, dan ujaran benci. Tersebar melalui Facebook, Twitter, hingga grup-grup Whatsapp, virus itu langsung menyerang otak mengoyak nalar insani, dan menyebabkan hilangnya kebijaksanaan akal serta keluhuran budi.

Hoax adalah informasi atau berita yang tidak benar, hoax biasanya digunakan oleh seseorang mulai dari untuk lelucon sampai suatu hal yang serius seperti politik, berita tersebut digunakan sebagai alat untuk menghancurkan kesatuan.

Berita hoax sekarang ini banyak disebarkan melalui media sosial seperti aplikasi-aplikasi chatting, instagram, facebook dan twitter, para pengguna media sosial banyak yang menerima berita-berita hoax, ada yang langsung mempercayai berita yang diterima tersebut ada juga yang mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Di Indonesia sendiri saat ini banyak sekali orang-orang yang menyebarkan berita hoax, di dalam berpolitik berita hoax digunakan oleh orang-orang yang mencari kesempatan untuk mengadu domba, memecah belah persatuan masyarakat, jika dalam pilkada berita hoax disebarkan untuk mengfitnah lawan calon pasangan tersebut biasanya berita hoax itu disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung guna untuk kepentingan pribadi atau untuk kepentingan kelompok tertentu.

Jika berita-berita hoax terus di biarkan di Indonesia hal ini akan berdampak lebih buruk lagi terhadap demokrasi Indonesia apalagi berita-berita hoax biasanya muncul di saat momen-momen demokrasi. Contonya, saat pilkada DKI Jakarta 2017 dimana pilkada dki jakarta saat itu memang menjadi membicaraan seluruh masyakarat Indonesia.

Yang kita ketahui dalam pilkada tersebut kedua kubu saling serang dan saling menujukan keunggulan masing-masing pasang calon gubernur. Pilkada yang di warnai dengan konflik SARA itu membuat sebagian orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan momen itu.

Mereka membuat berita-berita hoax yang akhirnya memyebabkan keributan antara pendukung, momen seperti itu lah berita hoax tersebar luas sehingga mengakibatkan perdebatan dan perpecahan antara pendukung masing-masing calon gubernur dan berita hoax pengaruhi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah masyarakat akan berpikir buruk karena berita tersebut padahal berita tersebut belum tentu benar faktanya.

Jika hoax terus dibiarkan hal ini akan mengakibatkan kecemasan dan dapat menjadi ancaman dalam berdemokrasi dan berpolitik masyarakat, demokrasi yang seharusnya menjadi ajang masyarakat untuk menciptakan suatu langkah baru untuk politik Indonesia kedepannya tetapi menjadi suatu menghancur masyarakat Indonesia.

Di tengah kecemasan masyarakat akan berita berita hoax yang mengancam demokrasi di Indonesia, hoax dimanfaatkan oleh kaum elite sebagai yang mengklaim mengatas namakan kecemasan sosial, ketika fakta yang ada tidak dapat menunjang klaim permasalahan yang di ciptakan, hoax menjadi ancaman di tengah masyarakat yang semakin kehilangan rasa demokrasi nya dan semakin melemahnya habitus literasi.

Dengan demikian sebagai masyarakat Indonesia kita sendiri yang harus memperjuangkan melawan berita-berita hoax yang ada, dimana prinsip-prinsip kemerdekaan, demokratisasi pengetahuan, dan partisipasi public yang setara adalah cara yang tepat untuk mencegah fenomena hoax di Indonesia.

Didik Haryadi, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogjakarta mengatakan bahwa penyebaran hoaks memiliki motif yang merujuk pada pertarungan dan kekuasaan di dunia maya.“Menurut saya ada tiga tujuan hoax disebarkan. Pertama, motif ekonomis; kedua, motif ideologis-politis; dan ketiga, motif asal berbagi/kesenangan.

Motif ekonomis merujuk pada akumulasi modal dan kalkulasi laba dari si pembuat hoax melalui naiknya rating kunjungan website, darinya ia mendapat rating tinggi dan iklan pun masuk. Motif ideologis-politis, motif ini cenderung membuat dan atau menyebar hoaks untuk tujuan-tujuan ideologis dan politis yang muaranya adalah menghantam lawan-lawan berbeda ideologi dan menghantam lawan-lawan politik melalui ruang virtual."

Dalam jurnal penelitian Christiany Juditha, yang berjudul 'Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial Serta Antisipasinya', mengatakan bahwa Ada tiga pendekatan penting yang diperlukan untuk mengantisipasi penyebaran berita hoaks di masyarakat yaitu pendekatan kelembagaan, teknologi dan literasi.

Pendekatan kelembagaan, dengan terus menggalakkan komunitas anti hoax. Dari sisi pendekatan teknologi, dengan aplikasi hoax cheker yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk mengecek kebenaran berita yang berindikasi hoaks.

Pendekatan literasi, dengan gerakan anti berita hoax maupun sosialisasi kepada masyarakat mulai dari sekolah hingga masyarakat umum yang ditingkatkan dan digalakkan, bukan saja oleh pemerintah tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk institusi-institusi non pemerintah lainnya. *

Penulis adalah pegiat Rumah Pers Mahasiswa