PKP

Aktivitas Medsos Dihentikan, Ini Tanggapan Diskominfo Kota Batam
Oleh : Putra Gema Pamungkas
Rabu | 22-05-2019 | 16:41 WIB
whatsapp18.jpg honda-batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Kepala Dinas Kominfo Kota Batam, Salim mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi pasti dari pusat terkait penyetopan medsos yang berlaku di seluruh Indonesia ini.

"Saya belum dapat info dari pusat, hal ini saya ketahui ketika mendengar statemen siaran pers Menteri Kominfo melalui siaran pers di stasiun televisi," ujarnya.

Terkait sampai kapan penghentian medsos ini pun belum diketahui dirinya. Hal tersebut dikarenakan masih belum adanya pemberitahuan kepada Kominfo di setiap daerah bahwa pemberhentian medsos ini akan berlangsung berapa lama.

Dirinya pun mengharapkan masyarakat Kota Batam dapat memaklumkan penghentian sementara media sosial tersebut demi menjaga situasi yang aman dan kondusif dalam menjalani prosesi Pemilu 2019.

"Saya harapkan agar masyarakat Kota Batam dapat mengerti terkait kebijakan ini demi menjaga situasi yang aman dan kondusif," tutupnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Republik Indonesia menonaktifkan sementara layanan media sosial. Hal tersebut untuk menghindari penyebaran berita hoax secara masif selama masa Pemilu 2019 berlangsung.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Kemkominfo Republik Indonesia, Rudiantara memalui siaran persnya di Jakarta, Rabu (22/5/2019). Dirinya mengatakan, penghentian sementara media sosial ini difokuskan kepada pengiriman foto dan video.

"Kita hentikan untuk sementara media sosial, untuk foto dan video, karena secara piskologis apabila mengeshare video tanpa adanya informasi yang jelas terkait foto atau video itu akan berakhir dengan emosi, jadi sementara kita hentikan," kata Rudianto.

Lanjut Rudi, alasan penghentian secara menyeluruh ini disebabkan banyaknya pengguna ponsel di Indonesia yang rata-rata memiliki aplikasi Whatsapp dan Facebook.

"Karena whatsapp dan Facebook itu sifatnya individu, kita punya 200 juta lebih pengguna ponsel di indonesia, hampir semuanya menggunakan aplikasi medsos tersebut, bagaimana kita menangani 200 juta pengguna itu kalau backgroundnya individu, tidak akan bisa efektif kalau satu-satu," lanjutnya.

Editor: Yudha