PKP

Air Baku Dam Sei Harapan Menipis, ATB Lakukan Rationing Mulai Besok
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 19-04-2019 | 08:20 WIB
sei-harapan-kering.jpg honda-batam
Kondisi terkini Waduk Sei Harapan. (ATB)

BATAMTODAY.COM, Batam - Curah hujan Batam yang terus berkurang sejak awal tahun 2019 membuat seluruh dam yang menjadi andalan sumber air baku PT Adhya Tirta Batam (ATB) menyusut tajam. Penyusutan air baku yang paling signifikan terjadi di Dam Sei Harapan.

Dam Sei Harapan akan mencapai titik kritis dilevel minus 2,5 Meter dari permukaan spillway, meski saat ini berada di level minus 2,4 Meter. Oleh karena itu untuk memperpanjang masa ketahanan air baku Dam Sei Harapan, mulai Sabtu ATB akan melakukan rationing.

"ATB akan lakukan rationing mulai Sabtu 20 April, karena air baku dalam dam Harapan mencapai titik kritis. Rationing merupakan program penggiliran suplai air kepada pelanggan dengan beberapa cara, salah satunya menurunkan kapasitas produksi agar ketersediaan air baku dapat bertahan lebih lama," ucap Maria Jacobus, Head of Corporate Secretary ATB, Kamis (18/4/2019) dalam siaran persnya.

Maria menjelaskan, water rationing akan dilakukan dua kali setiap pekannya, yakni setiap Sabtu dan Rabu. Saat rationing, produksi WTP Harapan akan berhenti beroperasi (off).

Jadwal rationing akan dimulai Sabtu 20 April 2019 pukul 00.00-24.00 WIB dan Rabu 00.00-24.00 WIB . "Rationing akan dimulai Sabtu dengan menerapkan pola rationingya adalah 1-3-1-2 dengan artian 1 hari Instalasi Pengolahan Air (IPA) tidak berproduksi (off) 3 hari mengalir, 1 hari off 2 hari mengalir. Jadi setiap minggunya berjalan setiap Sabtu dan Rabu," ucap Maria.

Ia menegaskan, program rationing yang akan diberlakukan di Dam Sei Harapan akan berdampak pada 18 ribu lebih pelanggan, mulai dari kawasan sebagian Tiban, Sekupang, Tanjung Pinggir, Tanjung Riau, Patam, dan sekitarnya. Saat rationing diberlakukan, suplai air kepada pelanggan pasti tidak akan sehandal saat normal, suplai air bersih yang dinikmati pelanggan otomatis akan berkurang.

"Tekanan air yang diterima juga kemungkinan besar tidak akan sebesar saat normal. ATB berupaya agar pelanggan tetap mendapatkan suplai air," ungkapnya.

Oleh karena itu ia menghimbau agar pelanggan ATB mengubah pola pemakaian air sehingga dapat lebih menghemat air bersih. Selain itu pelanggan juga diharapkan disiplin dan tertib mengikuti jadwal rationing yang sudah ditetapkan. Ketidakdisiplinan dan intoleransi merupakan kendala yang dapat menggagalkan program rationing yang pada akhirnya menimbulkan masalah lebih besar.

"Saat program rationing diberlakukan, pelanggan harus tertib, disiplin dan berkomitmen untuk menghemat penggunaan air bersih. Jangan karena air di rumah masih mengalir lancar dan sanggup membayar tagihan yang dibebankan oleh ATB setiap bulan, pelanggan menghambur-hamburkan air bersih," katanya mengingatkan.

Ia mengimbau, untuk kegiatan yang menggunakan air bersih dan bersifat tidak terlalu penting mohon dikurangi sehingga dapat menghemat cadangan air yang tersedia. "Ketersediaan air baku adalah segalanya. Setiap tetes air sangat berarti bagi kelangsungan hidup. Kesia-siaan penggunaan air akan menjadi bencana bagi kita semua. Saat rationing, penyelesaian dengan menggunakan mobil tanki air tidak akan menyelesaikan masalah utama, yaitu ketersediaan air baku itu sendiri. Solusi utama adalah ekstra hemat penggunaan air bersih," tegasnya.

Maria juga menghimbau agar pelanggan menyediakan tampungan seperlunya. Pelanggan diharapkan manampung air seperlunya, bukan secukupnya karena orang lain juga membutuhkan kehidupan.

Pelanggan harus bertoleransi dan berbagi dengan pelanggan lain yang juga membutuhkan air. Penampungan berlebihan akan mengakibatkan pelanggan di sisi hilir semakin menderita.

"Pelanggan harus hemat menggunakan air karena rationing yang akan dijalankan ATB pada April ini bukan karena gangguan umum atau akibat kerusakan jaringan, namun karena ketersediaan air baku yang berkurang. Seperti yang kita tahu Batam tidak memiliki sumber daya air alami dan hanya mengandalkan air hujan sebagai air baku," pungkasnya.

Editor: Gokli