PKP

Digital Talent Schoolarsip untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0
Oleh : Redaksi
Sabtu | 16-03-2019 | 09:18 WIB
dgs-4-0.jpg honda-batam
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk 'Membangun Sumber Daya Manusia Menyongsong Era Industri 4.0: Memastikan Infrastruktur TIK, Industri Manufaktur, SDM Riset, dan Skema Dukungan Anggaran' di Jakarta, Selasa (12/3/2019). (Kominfo)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah menggulirkan Digital Talent Scholarship, program beasiswa bagi 20.000 generasi muda Indonesia dengan tujuan agar Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain di era Revolusi Industri 4.0.

Hal itu ditegaskan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk 'Membangun Sumber Daya Manusia Menyongsong Era Industri 4.0: Memastikan Infrastruktur TIK, Industri Manufaktur, SDM Riset, dan Skema Dukungan Anggaran' di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

"Studinya World Bank, tahun 2015-2030 kita butuh tambahan 9 juta digital skill. Jadi rata-rata harus ada tambahan 600ribu digital talent masuk ke Indonesia. Pesertanya lulusan SMK, D3 atau S1. Yang penting usianya tidak lebih dari 29 tahun. Tahun ini disiapkan 20.000 peserta. Memang terhitung masih sedikit jika dibandingkan kebutuhannya yang mencapai 600.000 digital talent," jelas Rudiantara, seperti dikutip situs resmi Kominfo.

Dalam diskusi tersebut, Menteri Kominfo kembali menekankan ada tiga hal besar yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2030 mendatang, yaitu Indonesia berada di puncak bonus demografi di mana usia produktif berjumlah dua kali lipat dibanding usia non-produktif. Pada saat itu, ekonomi Indonesia akan menguat, nilainya sama dengan seluruh ekonomi ASEAN jika disatukan saat ini.

"Lalu akan ada consuming class baru, tambahan 90 juta on top of 45 juta yang ada tahun lalu, totalnya jadi 135 juta. Agar itu semua tercapai, kita butuh SDM, butuh brain," ungkap Rudiantara.

Lebih lanjut Menteri Kominfo menjelaskan ada tiga talenta dalam dunia digital, yaitu basic skill (talenta dasar) yang berkaitan dengan literasi digital, misalnya bisa membedakan mana kabar hoaks dan mana yang bukan. Lalu talenta kedua adalah intermediate skill (menengah), hingga advance digital skill (mahir). Dari ketiga skill ini, beasiswa DTS menyasar pada intermediate skill, menekankan pada peningkatan talenta di tingkat vokasional.

"Intermediate skill ini yang Digital Talent Scholarship, Kominfo siapkan 20.000 digital talent level teknisi. Kenapa level teknisi? Kami bicara dengan Google, Microsoft, Cisco, mereka sulit menemukan level teknisi. Menutupinya harus merekrut dari luar negeri. Maka yang harus dikejar untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah membuat 'sekolah' digital talent," papar Rudiantara.

Ada 8 (delapan) bidang pelatihan yang masuk dalam kurikulum Beasiswa DTS, yaitu artificial intelligence, big data analytics, cyber-security, machine learning, digital policy & cloud computing, internet of things, programming & coding, serta graphic design & animation.

Semua ekosistemnya, lanjut Menteri Rudiantara, telah disiapkan dengan platform karir. Platform ini merupakan hasil kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan talenta digital di Indonesia. Sehingga, DTS tidak hanya memberi pelatihan namun juga menyalurkan para lulusannya ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan.

"Pemerintah membangun infrastruktur dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang sudah siap untuk bertarung di kancah global. Dengan program ini, Indonesia akan menjadi negara yang kuat," ujar Menteri Kominfo.

Selain Menteri Kominfo Rudiantara, turut hadir sebagai narasumber dalam Dismed FMB-9 kali ini adalah Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na'im.

Editor: Gokli