PKP

Lukisan Dinding Tertua Zaman Prasejarah Ditemukan di Indonesia
Oleh : Redaksi
Sabtu | 10-11-2018 | 19:28 WIB
lukisan-tertua.jpg honda-batam
Mendikbud, Muhadjir Effendy saat memberikan sambutan di dalam Peluncuran Hasil Temuan Lukisan Dinding Tertua di Dunia, di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, Kamis (8/11/2018). (Kemendikbud)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Salah satu karya manusia dari zaman prasejarah kembali ditemukan di Indonesia. Kali ini lukisan dinding tertua di dunia, berusia 40.000 tahun, ditemukan di Kalimantan Timur.

Lukisan tersebut berupa gambar cadas atau lukisan figuratif tertua di dunia dengan karya seni yang enigmatis, yang ditemukan di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) melakukan penelitan kolaborasi berskala internasional dengan Griffith University dan Institut Teknologi Bandung. Dari penelitian ini telah berhasil ditemukan gambar cadas atau lukisan figuratif tertua di dunia dengan karya seni yang enigmatis, berusia 40.000 tahun.

Gua-gua yang terdapat di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur, memang menyimpan potensi dan aset peninggalan peradaban masa prasejarah, khususnya lukisan gua. Gua-gua tersebut menyimpan serangkaian gambar purba seperti tangan manusia (stensil), hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan.

Gambar cadas tertua yang diketahui penanggalannya adalah gambar seekor hewan yang tidak teridentifikasi (kemungkinan merupakan spesies banteng liar yang hingga kini masih ditemukan di kedalaman hutan Kalimantan).

Salah satu cara untuk menyajikan perkiraan usia pembuatan gambar cadas yang tepercaya ialah menggunakan penanggalan dengan metode uranium-series yang dilakukan terhadap sampel kalsium karbonat yang dikumpulkan dari gambar cadas. Perkiraan usia ini dipimpin oleh spesialis penanggalan gambar cadas dari Universitas Griffith, Maxime Aubert.

Spesialis gambar cadas dari Arkenas, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan, gambar tapak tangan di Kalimantan tampak menunjukkan usia yang sama. "Hal ini memberi kesan bahwa tradisi gambar cadas Zaman Paleolitik pertama kali muncul di Kalimantan sekitar 52.000 dan 40.000 tahun yang lalu," ujarnya yang juga menjadi co-leader Tim Penelitian, seperti dikutip situs resmi Kemendikbud.

Hasil penanggalan ini juga mengindikasikan bahwa terdapat perubahan besar pada budaya seni gambar cadas Kalimantan sekitar 20.000 tahun yang lalu ditunjukkan dengan adanya gaya baru dalam seni gambar cadas (termasuk beberapa gambaran manusia) ketika iklim global pada Zaman Es mencapai tingkatan yang paling ekstrim.

Salah satu co-leader, Pindi Setiawan, spesialis gambar cadas yang terkenal dan dosen di Institut Teknologi Bandung mengatakan, saat ini masih menjadi misteri mengenai siapa seniman pada Zaman Es di Kalimantan dan apa yang telah terjadi pada mereka.

Dr Adam Brumm dan Maxime Aubert mengungkapkan artikel di Nature yang dipublikasikan oleh Arkenas pada tahun 2014. Dlaam artikel tersebut tertulis bahwa gambar cadas yang serupa muncul di Sulawesi pada 40.000 tahun lalu. Sulawesi terletak di tepi Eurasia dan merupakan 'Batu Loncatan' yang sangat penting antara Asia dan Australia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, publikasi secara resmi yang telah dimuat oleh Jurnal Nature merupakan salah satu bentuk pengakuan dunia internasional terhadap warisan budaya leluhur Indonesia. "Dan tentunya kita harus bangga dengan hal itu, salah satunya dengan upaya pelestarian," ungkap Mendikbud saat memberikan sambutan di dalam Peluncuran Hasil Temuan Lukisan Dinding Tertua di Dunia, di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Dalam penelitian ini terdapat 15 orang yang tergabung dalam Tim Peneliti, yakni Priyatno Hadi Sulistyarto, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Adhi Agus Oktaviana, S.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), E. Wahyu Saptomo, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Dr Pindi Setiawan (Institut Teknologi Bandung), Dr. Maxime Aubert (Griffith University), Dr Adam Brumm (Gniffith University), Drs Budi Istiawan (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Tisna A Marifat (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Vincentius N Wahyuono (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Falentinus T Atmoko (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), J.-X. Zhao (Queensland University), J. Huntley (Griffith University), P.S.C. Taçon (Griffith University), DL Howard (Australian Synchrotron Victoria) dan H.E.A. Brand (Australian Synchrotron Victoria). (Bianca Christy/Desliana Maulipaksi).

Editor: Gokli