Kebangkitan Ekonomi Bintan dan 4 Konsepsi Penting Kedaulatan Ekonomi Indonesia
Oleh : Harjo
Jum\'at | 28-01-2022 | 11:44 WIB
Jokowi-Bintan1.jpg
Kunjungan Presiden Jokowi ke Kabupaten Bintan beberapa waktu lalu. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Sejarah kembali mencatat, Bintan sebagai titik balik kedaulatan negara Indonesia. Ragam aksi kunjungan Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu, akan menjadi titik balik kebangkitan ekonomi dan kedaulatan bagi bangsa Indonesia.

Travel bubble, kewenangan ruang kendali udara, perjanjian kkstradisi, sekaligus terhentinya eksport bahan mentah menjadi sederet prestasi bagi Indonesia yang dimulai di tanah melayu.

Kepemimpinan Pemerintah Daerah kali ini pun patut diacungi jempol, karena berhasil mengharumkan nama Kepri, khususnya Bintan. Pemerintah Pusat memutuskan Bintan dipilih menjadi role model sebagai wilayah percontohan di Indonesia melalui prototype travel bubble. Ini akan menjadi sejarah langkah awal dalam kebangkitan ekonomi Bintan dan sektor kepariwisata di Bumi tanah Melayu.

Berbagai persiapan telah disiapkan untuk menyambut Kedatangan wisatawan manca negara saat masuk ke Pelabuhan Bandar Bintan Telani (BBT) Lagoi. tes cepat molekular (TCM) dan juga diambil sampel PCR. Begitu juga saat akan meninggalkan Lagoi, kembali menjalani tes Covid-19.

Bintan juga dinilai sebagai daerah yang sudah siap untuk mengakomodasi kebijakan travel bubble, karena telah menerapkan protokol kesehatan CHSE dengan baik dan memiliki sumber daya manusia yang terlatih.

Maka Bintan akan menjadi daerah yang terdepan dalam kebangkitan ekonomi. Bintan juga akan menjadi daerah percontohan dalam penerapan daerah lainnya. Hal ini tentu menjadi peluang besar dan titik kebangkitan ekonomi Bintan dalam sejarah.

Sebuah kesempatan bagi generasi muda dan masyarakat Bintan, melalui pemimpin muda Roby Kurniawan, telah mencatat sejarah baru awal kebangkitan dan pemulihan ekonomi Bintan lebih cepat dari wilayah lainya di Indonesia. Dikatahui 65% sektor pariwisata Bintan adalah penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar sebelum masa pandemi.

Namun bukan saja gebrakan travel bubble yang memberikan warna baru dalam sejarah. Namun Bintan juga dikejutkan sebagai saksi sejarah dimana pemerintah Indonesia kembali berdaulat dengan memasuki babak baru dalam pengelolaan ruang kendali udara atau Flight Information Region (FIR) di wilayah Perairan Kepulauan Riau dan Natuna yang sejak 1946, pengelolaannya berada di bawah otoritas penerbangan sipil Singapura. Babak baru untuk integritas teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selama ini dinanti- nanti.

Dari Bintan juga membuat buronan koruptor bergetar dengan ditandatanganinya perjanjian ekstradisi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Singapura dalam mencegah praktik korupsi lintas batas negara. Perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura telah memiliki masa retroaktif (berlaku surut terhitung tanggal diundangkan) selama 18 tahun ke belakang sesuai ketentuan maksimal kadaluwarsa sebagaimana diatur dalam Pasal 78 Kitab UU Hukum Pidana Indonesia.

Dengan perjanjian ekstradisi tersebut, Indonesia-Singapura sepakat untuk melakukan ekstradisi bagi setiap orang yang ditemukan berada di wilayah negara diminta dan dicari oleh negara peminta. Hal itu termasuk untuk penuntutan atau persidangan pelaksanaan hukuman untuk tindak pidana yang dapat diekstradisi sehingga dapat mempersempit ruang gerak pelaku tindak pidana di Indonesia dalam melarikan diri.

Dan sejarah kembali mengukir bahwa dari Bintan lah negara kembali berdaulat , dimana Presiden Joko Widodo melepas ekspor perdana simelter grade alumina (SGA) hasil produksi PT. Bintan Alumina Indonesia (BAI) di kawasan ekonomi khusus. Sebuah peluang yang menjanjikan bagi kebangkitan ekonomi Bintan dan kesejahteraan bagi masyarakat Bintan dan Provinsi Kepri pada umumnya, Bintan bagaikan magnet yang memiliki Kekayaan Sumber daya alam yang luar biasa.

Bahkan Presiden dengan tegas, menekankan pentingnya hilirisasi industri dengan mulai menghentikan ekspor bahan mentah. Ia mendorong agar perusahaan-perusahaan dapat melakukan pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi layaknya di Bintan.

Tentu saja hilirisasi industri ini juga akan memberikan nilai tambah bagi negara dan daerah untuk lebih maju dan berkembang dengan menyumbang pemasukan pendapatan daerah yang lebih tinggi.

Selain itu, juga akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, dan membuat wajah ekonomi Bintan kedepannya akan makin mandiri dan makin maju. Karena ekonomi Bintan kedepannya akan dikenal bukan saja berada pada sektor pariwisata namun juga sektor industri.

Di sinilah diperlukan kepemimpinan muda yang kuat dengan penentuan strategi jitu, sehingga Bintan kedepannya tidak saja mampu sebagai leader kebangkitan sektor ekonomi melalui dunia pariwisata namun lebih dari itu, adalah mendorong pertumbuhan dari potensi ekonomi lain dengan memaksimalkan hilirisasi industri.

Editor: Yudha