Nasib Indonesia Lima Tahun Mendatang Berada di Tangan Pemilih Cerdas
Oleh : Opini
Senin | 04-03-2019 | 19:29 WIB
pemilih-cerdas2222222222222.jpg
Ilustrasi pemilih cerdas. (Foto: Ist)

Oleh Nabila Selma Herliani

PEMILIHAN umum atau pemilu merupakan suatu proses memilih kandidat yang akan menduduki kursi pemerintahan. Pemilu diadakan untuk mewujudkan Negara yang demokrasi, dimana keputusannya didasarkan suara mayoritas masyarakat. Demi memperoleh suara masyarakat ini beragam cara dilakukan, baik sesuai ketentuan pemilu hingga dengan jalan pintas yang melanggar ketentuan.

Salah satu jalan pintas yang dipilih ialah dengan menggunakan tekhnologi informasi internet, cara ini terbilang ampuh karena semua kalangan pada era sekarang mudah mengakses.

Bermodal dengan menyebar berita, infotmasi, serta hal lainnya yang berkaitan dengan pemilu di dunia maya, sudah dapat meracuni pengetahuan dan pandangan masyarakat. Hal ini bermasalah apabila hal yang disebarkan merupakan berita palsu atau hoax, yang pada akhirnya disantap mentah-mentah oleh masyarakat.

Berikut contoh nyata penyebaran hoax yang sudah terjadi pada pemilu tahun ini seperti yang dilansir oleh Detiknews (02/01/19) “Sebanyak 62 konten hoax terkait pemilu 2019 diidentifikasi oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kementrian Kominfo) selama Agustus-Desember 2018…”.

Berita yang dimuat Detiknews ini juga melampirkan daftar laporan isu hoax yang terindikasi melalui portal kominfo.go.id dan stophoax.id. Berdasarkan fakta tersebut dapat dibayangkan, apabila banyak berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya beredar di dunia maya dan dikonsumsi oleh masyarakat, hal ini akan berdampak pada kualitas pemilu. Dimana, pemilu yang seharusnya damai, berkualitas, serta bermartabat akan berujung dengan pemikiran masyarakat yang sudah terprovokasi oleh berita dan informasi hoax.

Sebagai masyarakat yang cerdas sudah sepatutnya dapat menyikapi informasi dan berita yang didapat dari internet secara bijaksana, serta lebih berhati – hati untuk menyebarkan informasi yang diterima sebelum melakukan validasi kebenarannya. Cukup mudah untuk melakukan validasi kebenarannya, berikut penulis rangkum dari kominfo.go.id (19/01/17).

Pertama, sebaiknya masyarakat lebih berhati – hati apabila judul berita provokatif dan menunding ke pihak tertentu. Sehingga, apabila mendapatkan berita ataupun informasi dengan judul provokatif, sebaiknya mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi. Kedua, berkaitan dengan situs resmi, masyarakat dapat mencermati alamat situs yang tercantum dalam berita atau informasi tersebut.

Apabila link yang tercantum belum terverifikasi sebagai institusi pers seperti domain blog, maka dapat dibilang informasi yang terkandung meragukan. Selanjutnya apabila penyebaran berita melampirkan foto, maka sebaiknya masyarakat menilik kembali keaslian foto tersebut dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian google.

Hasilnya, google akan menampilkan gambar-gambar serupa, sehingga dapat dibandingkan. Kemudian, terdapat fasilitas yang dapat digunakan masyarakat untuk melayangkan pengaduan terhadap konten negative dalam hal ini hoax ke kementrian Komunikasi dan Informatika ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Hasil yang diharapkan dari pemilih yang cerdas adalah terciptanya iklim pemilihan umum yang kondusif, berkualitas, dan bermartabat karena informasi calon pemangku tahta pemerintahan Negara diterima masyarakat berdasarkan kenyataannya, serta tidak menimbulkan kalangan masyarakat yang saling menjatuhkan karena perbedaan pandangan, terlebih lagi jika pandangan tersebut dibentuk dari berita hoax.

Karena sudah seharusnya sesama masyarakat untuk saling bahu membahu membangun Indonesia dengan mewujudkan mimpi Indonesia, dalam hal pembangunan nasional dengan meningkatkan seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara. Pembangunan nasional yang diharapkan mencakup aspek politik, ekonomi, kesehatan, social budaya, pertahanan dan kemanan Negara, serta bidang lainnya. Dengan tujuan meningkatkan kesejaheraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju serta demokrasi sesuai ideology pancasila secara nasional.

Ketika masyarakat sudah mampu memilih dan menyaring informasi yang didapat, maka bagaimana cara masyarakat menilai, berpikir, dan memutuskan dari berbagai sudut pandang akan didasarkan oleh kebenaran. Kebenaran ini diharapkan mampu membantu mewujudkan keberlangsungan pembangunan nasional oleh siapa pun yang terpilih nantinya.

Maka jadilah pemilih yang cerdas, dan mulailah dari diri sendiri. Bagaimanapun juga masih banyak masyarakat yang masih belum dapat menyaring informasi yang didapatkan. Siapapun yang membaca tulisan ini semoga dapat lebih bijaksana dalam pemilu tahun ini. Penulis berharap hak suara yang dimiliki oleh masyarakat akan lebih dapat digunakan dengan semestinya.

“Lahirnya seorang gubernur yang baik, butuh rakyat yang kritis dan terdidik. Daerah yang maju tak ditentukan gubernurnya, tapi dari mutu warga pemilihnya.” – Catatan Najwa (Gubernur = Pemimpin) Referensi.

Penulis adalah mahasiswa PTS di Jakarta