Begitulah setidaknya sekelumit latar belakang lahirnya organisasi rakyat pertama di Indonesia yang kita kenal semua sebagai Boedi Oetomo. Dengan visi untuk melakukan pencerahan dan pendidikan kepada mayoritas masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih sangat terbelakang karena kolonialisme, lahirnya Boedi Oetomo menjadi simbol bagi sebuah semangat yang lebih besar lagi, yaitu sebuah semangat untuk bangkit melawan penindasan.
Lahirnya Boedi Oetomo yang sekaligus diperingati sebagai momen hari Kebangkitan Nasional, setidaknya memberikan kita sebuah pemberitahuan atas kapasitas manusia Indonesia yang memiliki potensi untuk merubah dirinya dari kondisi sosial yang menyesakkan. Salah satu momen bersejarah yang mengafirmasi posisi ini setidaknya dapat kita lihat pada Reformasi 1998, di mana kekuasaan korup dan zalim Orde Baru yang berkuasa di Indonesia selama 32 tahun dapat dijatuhkan dengan kekuatan bersama dari rakyat yang bangkit dan berlawan.
Kenangan sejarah inilah yang setidaknya ingin disampaikan oleh Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI). Dari lahirnya Boedi Oetomo sampai dengan runtuhnya kekuasaan Orde Baru Soeharto melalui Reformasi 1998 memberikan kita sebuah kesimpulan yang tegas bahwasanya hanya dengan rakyat yang sadar dan bangkit melawan maka perubahan akan dapat dicapai.
Bahwa penderitaan yang merupakan hasil dari kondisi sosial ekonomi politik yang sekarang tengah kita alami akan mampu kita tanggulangi jika kita, Rakyat Indonesia, bangkit untuk melawan. Ketidakmampuan elit politik dengan kebijakan neoliberalnya untuk membawa seluruh masyarakat Indonesia ke kesejahteraan yang sejati menunjukkan bahwa elit politik kita telah mengalami kebangkrutan dan delegitimasi kekuasaan. Untuk itu kebangkitan Rakyat yang sejati merupakan prasyarat yang harus dipenuhi jika kita semua ingin berubah ke kondisi yang lebih baik.
REFORMASI GAGAL
REZIM NEOLIBERAL SBY-BOEDIONO TELAH GAGAL
GANTI REZIM, GANTI SISTEM!
Jakarta, 20 Mei 2010
Salam Oposisi,
Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR-Indonesia)(Jkt/Btd)