Sebelumnya, G-GER melakukan longmarch sepanjang dari arah My Mart menuju kantor Walikota Batam. Dalam aksinya kali ini, masa geger menuntut agar razim SBY-Boediono segera mundur. Tidak hanya itu, dalam kesempatan kali ini, di hadapan sejumlah pejabat Pemerintah Kota Batam, G-Ger mendesak agar Pemko Batam menyampaikan aspirasi mereka ke pusat.
"SBY-Boediono tidak mampu mengatur dan menjalankan roda pemerintahan. Kita sudah tidak percaya lagi terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Selama ini, kabinet SBY-Boediono telah gagal mensejahterakan rakyat Indonesia. Turunkan SBY, penjarakan Boediono dan Sri Mulyani, karena SBY telah bohongi rakyat," kata Azhari, koordinator aksi, berapi-api.
Selain menyampaikan pernyataan sikap sebagai mosi tidak percaya terhadap pemerintahan SBY-Boediono, dalam kesempatan itu, G-GER juga menghadiahi Walikota Batam bingkisan berupa BH dan celana dalam bekas.
Aksi mulai memanas ketika masa G-GER memaksa untuk memasuki kantor walikota, namun itu tidak tercapai karena telah dihadang oleh puluhan Satpol PP. Karena massa terus merangsek memaksa untuk masuk, sehingga sempat terjadi ketegangan antara Satpol PP dengan massa yang berujung baku hantam.
Melihat aksi ini, Kapolsek Batam Kota Suka Irawanto langsung menghubungi Kapoltabes barelang Kombes Leonidas Braksan untuk meredakan ketegangan.
Massa G-GER akhirnya meninggalkan kantor Walikota Batam, setelah bertemu dengan perwakilan Walikota Batam yang diwakili Sekda Agussahiman.(btm/btd)