Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan

Bangsa Indonesia Dilemahkan, Generasi Muda Diserang dengan Narkoba
Oleh : Redaksi
Rabu | 11-10-2017 | 11:38 WIB
Hardi-1.jpg
Hardi Selamat Hood dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan di hadapan mahasiswa dan pengajar Kampus Karya anak Bangsa Kota Batam. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Anggota MPR RI Hardi Selamat Hood mengatakan maraknya narkoba masuk ke Indonesia sebagai upaya 'perang candu' pihak asing untuk melemahkan generasi muda Indonesia.

Pada saat 100 tahun Indonesia merdeka mendapat bonus demografis, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari jumlah lansia dan anak-anak. Demikian disampaikan Hardi Selamat Hood di hadapan mahasiswa dan pengajar Kampus Karya anak Bangsa Kota Batam dalam sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan beberapa waktu lalu.

"Saat 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045 banyak pihak mengatakan Indonesia akan bangkit sebab jumlah orang penduduk usia produktif lebih banyak dari kaum Lansia dan anak-anak. Semetara negara-negara Asia lainnya justru sebalinya. Rupanya ada yang tidak menginginkan Indonesia bangkit," ujar senator asal Provinsi Kepulauan Riau itu.

Karena itu, lanjut Hardi, fenomena membanjirnya narkoba masuk ke Indonesia jangan hanya dilihat sebagai kejahatan kriminal yang dijalankan oleh mafia biasa, tetapi dibalik itu ada kekuatan negara tertentu yang bertujuan untuk melemahkan generasi muda ke depan.

"Lihatlah berbagai metode diciptakan dan dikembangkan oleh jaringan sindikat narkoba untuk mempertahankan kesinambungan pasar atau konsumen. Salah satunya dengan metode 'regenerasi pasar'. Metode ini diimplementasikan dengan cara mencekoki anak-anak usia dini dengan narkoba yang 'dikamuflasekan' di dalam makanan atau candy. Sehinga ke depan genrasi kita adalah generasi yang sudah teracuni narkoba," kata lulusan S3 Universitas Tun Hussein On Malaysia (UTHM) Johor, Malaysia itu.

Menurut Hardi, modus ini sama seperti perang candu di China tahun 1840 - 1842, di mana Inggris berhasil mengalahkan Cina dan menguasai Hongkong.

"Ini adalah bukti nyata bahwa narkoba sangat ampuh digunakan sebagai 'alat' (kekuatan terselubung) untuk menguasai negara lain. Berpikir analogi dengan perang candu yang terjadi di pertengahan abad 18 - 19 tersebut, rasanya jadi masuk akal apabila ada beberapa orang yang punya analisis (jangan-jangan Indonesia sedang mengalami serangan dari negara lain dengan menggunakan narkoba sebagai 'senjata' atau 'alat' untuk menghancurkan kekuatan dan kedaulatan bangsa Indionesia) atau istilah kerennya sebagai proxy war atau perang asimetris," ungkapnya.

Hardi menilai fenomena banjirnyanya narkoba masuk ke Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Ia berpesan kepada para peserta agar menghindari pemakaian narkoba.

Hardi juga meminta agar para peserta dapat mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat umum dan generasi muda lainnya. "Bangsa ini peru di rawat dan dijaga, kita kalau bukan kita siapa lagi, perkuat persatuan demi Indonesia jaya selamanya," pungkasnya.

Selain mejelaskan tentang bahaya narkoba, Hardi juga menyampaikan materi terkait empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 45 Negara Republik Indonesia, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Editor: Gokli


BNN-KEPRI