Dewi Lumpuh karena Tak Mampu Berobat, Dua Anaknya Putus Sekolah
Oleh : Yosri Nofriadi
Senin | 09-10-2017 | 17:14 WIB
Dewi-lumpuh.gif
Kusmala Dewi, wanita berusia 42 tahun ini hanya bisa terbaring lemas di atas kasur selama empat bulan terakhir, karena mengidap penyakit aneh (Foto: Yosri Nofriadi)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kusmala Dewi, wanita berusia 42 tahun, hanya bisa terbaring lemas di atas kasur selama empat bulan terakhir karena mengidap penyakit aneh yang diduga penyakit TBC tulang dan menyebabkan kelumpuhan di kedua kakinya.

Penyakit yang belum bisa dipastikan jenisnya itu tidak hanya menyebabkan kelumpuhan. Namun juga menggerogoti tubuh Dewi, hingga badannya saat ini kurus kering bersisa tulang.

Saat dijumpai di kediamannya, Kampung Tanjung Pelanduk RT 03/RW 15, Kelurahan Tanjunguncang, Batuaji, Senin (9/10/2017), Dewi tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa terbaring lemas di ruang tamu rumahnya berukuran 5x3 meter.

Dewi sendiri terpakasa dibaringkan di atas kasur lantaran rumahnya yang masih masuk kawasan rumah liar (Ruli) tidak memiliki kamar. Dalam kesehariannya, Dewi ditemani empat anak-anaknya yang masih kecil, Rizky (11), Egi (10), Irji (6) dan Asyifa (2), dan tetangga sekitar. Sementara suaminya, Boyke Darusallam, mencari nafkah dan biaya untuk pengobatan sang istri.

"Suami saya baru dua minggu ini kerja, jadi yang bantu saya ada tetangga dan pak RT. Baru enam bulan kami kembali ke sini, sebelumnya suami saya putus kontrak kerja. Jadi kami pulang kampung sebelum saya sakit," ujar Dewi.

Setelah dua bulan kembali dari kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara, Dewi malah terserang penyakit aneh hingga sekarang. Memang awalnya, sakit yang dideritanya itu biasa saja. Dia hanya mengeluh pusing dan lemas.



"Kebetulan ada keluarga di Piayu (Seibeduk), waktu itu saya coba berobat di Puskesmas Pancur," ujarnya lagi.

Saat berobat ke sana, petugas medis menyebutkan jika Dewi mengidap penyakit TBC tulang. Namun karena keterbatasan biaya, saat ini Dewi hanya berobat semampunya saja. Sehingga sakit yang dideritanya tidak pulih normal.

"Pulang dari sanalah makin parah, kaki saya malah tidak berasa. Seperti orang lumpuh, gak kuat lagi saya berdiri," katanya.

Keterbatasan biaya pun menyebabkan pengobatan hanya sebatas itu saja. Apalagi kartu BPJS keluarga Dewi yang dibayar mandiri tidak bisa digunakan, karena sudah empat bulan mereka tidak membayar iuaran BPJS tersebut.

"Pengen ke rumah sakit biar didiagnosa secara pasti apa penyakit saya ini, tapi tak bisa karena BPJS tak bisa digunakan. Kami nunggak sudah empat bulan," ujar Dewi lagi.

Situasi ekonomi yang sulit mengharuskan Rizky dan dua adiknya putus sekolah. Rizky yang seharusnya duduk di kelas empat dan Egi kelas tiga SD, tak lagi bisa lanjut sekolah. Mereka harus fokus mengurus sang ibu dan dua adik mereka yang masih kecil.

"Mereka hanya urusin saya saja, kasihan. Seharusnya mereka bisa sekolah seperti anak yang lainnya," ujarnya.

Untuk saat ini, ketua RT 03, Mahmud, berusaha membantu untuk pengobatan Dewi. Dia sedang berupaya melunasi tagihan iuran BPJS Dewi. Hal itu agar Dewi bisa berobat ke rumah sakit dengan menggunakan BPJS.

"Kemarin saya sudah berusaha urus SKTM-nya ke kelurahan, tapi memang tidak bisa kalau untuk berobat. Soalnya sekarang sudah ada BPJS, jadi saya urus dulu BPJS-nya untuk berobat di RSUD," ujar Mahmud, Ketua RT 03.

Editor: Udin


BNN-KEPRI