Indonesia Journalist Visit Programme ke-18

Wisatawan dari Batam Belum bisa Menikmati Fasilitas Pengembalian Pajak di Singapura
Oleh : Saibansah
Kamis | 05-10-2017 | 08:00 WIB
PERTEMUAN_DENGAN_MENKEU_SING.jpg
Menteri Senior Hukum dan Keuangan Singapura, Indranee Rajah saat menerima kunjungan 12 orang wartawan Indonesia peserta Program IJVM ke-18 di Kantor Singapura Treasury, Rabu (4/10/2017). (Foto: Saibansah)

BATAMTODAY.COM, Singapura - Para wisatawan yang berangkat dari Batam, Bintan dan Karimun menggunakan feri ke Singapura, belum bisa menikmati fasilitas pengembalian pajak sebesar 7 persen. Tidak seperti wisatawan yang masuk Singapura melalui Bandara Changi.

Kepastian tidak adanya fasilitas pengembalian Pajak Barang dan Jasa (GST) sebesar 7% yang dibayar atas belanjaan sebesar 100 dolar Singapura itu, disampaikan Menteri Senior Hukum dan Keuangan Singapura, Indranee Rajah, saat menerima kunjungan 12 orang wartawan Indonesia peserta Program IJVM (Indonesia Journalist Visit Programme) ke-18 di Kantor Singapura Treasury, Rabu (4/10/2017).

Menjawab BATAMTODAY.COM, Indranee Rajah memaparkan alasan kebijakan tersebut. Yaitu, karena pemerintah Singapura menyakini bahwa para penumpang yang masuk ke Singapura melalui Bandara Changi bukanlah orang yang bekerja di Singapura.

Sedangkan wisatawan dari Batam, Bintan atau Karimun, yang masuk menggunakan feri, kata Indranee Rajah, susah dibedakan dengan mereka yang bekerja di Singapura.

Berbeda kondisinya dengan ribuan warga Malaysia yang setiap hari masuk dari Johor Bahru ke Singapura. Sudah dapat dipastikan, mereka adalah pekerja. "Kita susah membedakan para penumpang yang naik ferry dari Batam itu adalah wisatawan atau pekerja," ujar Indranee Rajah lagi.

Tampaknya, pemerintah Singapura dalam waktu dekat ini belum akan mengambil keputusan untuk memberlakukan fasilitas pengembalian pajak tersebut untuk wisatawan dari Batam, Bintan dan Karimun. Meskipun sudah ada permohonan dari Pemerintah Kota (Pemko) Batam. "Dalam waktu dekat ini belum ada," tambah wanita berambut pendek itu.

Editor: Dardani


BNN-KEPRI