Ekspedisi Dijanjikan Rp200 Juta

12 Ton Serbuk Bahan Dasar Pembuatan Flaka Dibeli Rp2 Miliar dari India
Oleh : Harjo
Sabtu | 16-09-2017 | 13:14 WIB
Ekspose-flaka1.gif
Kapolres Bintan AKBP Guntur Febrianto Sunoto ekspose tangkapan 12 ton serbuk bahan dasar flaka. (Foto: Harjo)

BATAMTODAY.COM, Tanjunguban - Serbuk sekitar 12 ton tangkapan Polsek Bintan Timur yang diduga bahan dasar pembuatan psikortopika jenis flaka dibeli seharga Rp2 miliar oleh Martin, pemesan barang terlarang tersebut.

Serbuk tersebut dikemas dalam 480 drum dengan berat rata-rata di atas 20 kg yang diimpor dari India melalui jalur Singapura ke Batam. Kemudian menyeberang ke Bintan melalui Tanjunguban menggunakan tiga truk barang, lalu untuk dibawa ke Pelabuhan Sribayintan Kijang dan akan dibawa ke Jakarta, untuk diproduksi dan akan diekspor kembali.

Sementara dari hasil uji laboratorium dari sekitar 100 sample yang sudah di test, terdapat tiga jenis obat yang memang dilarang diedarkan, di antaranya Dextrethorphan Hidrobromide PH.EUR, Trihexyphenidil Hidrocloride dan Carisoprodol.

Kapolres Bintan AKBP Febrianto Guntur Sunoto menyampaikan, Martin warga Jakarta selaku pemilik obat mengaku membeli obat seharga Rp2 miliar, juga membayar untuk ekspedisi sekitar Rp200 juta.

"Pihak ekspedisi mengaku belum menerima pembayaran yang dijanjikan oleh pemilik obat terlarang tersebut. Fernandes juga mengaku jasanya belum dibayar oleh pengorder atau pemilik obat dan mengaku melakukan hal ini baru pertama kalinya," ujar Kapolres, Jumat (15/9/2017) kemarin.

Dengan sudah sempat masuknya barang berupa obat yang sangat berbahaya, dan sudah dilarang edarnya secara tunggal oleh BPOM ke wilayah Bintan khususnya dan Kepri Umumnya. Guntur mengajak seluruh unsur dan elemen masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap pintu-pintu masuk yang ada di Bintan.

"Untuk mengantisifasi masuknya barang illegal ke daerah ini, kita mengajak seluruh elemen yang ada baik instansi, dinas serta masyarakat. Untuk sama-sama meningkat pengawasan, demi keamanan dan kenyamanan di tengah masyarakat," harapnya.

Editor: Yudha


BNN-KEPRI