Keluarga Korban Tewas Laka Kerja PT ASL Shipyard Belum Terima Santunan
Oleh : Yosri Nofriadi
Jumat | 15-09-2017 | 17:28 WIB
Bustama-ayah-Faisal-Koto.gif
Bustama ayah Faisal Koto (Foto: Yosri Nofriadi)

BATAMTODAY.COM, Batam - Keluarga dari korban tewas kebakaran kapal tanker Gankomora milik Pertamina di PT ASL Shipyard, galangan kapal, Tanjunguncang pada minggu lalu, mengaku sudah ikhlas menerimanya. Namun, sekarang yang diharapkan pihak keluarga adalah bantuan dari pihak perusahaan dan asuransi BPJS Ketenagakerjaan.

Keluarga Faisal Koto (19) salah satunya. Faisal Koto adalah satu dari lima orang yang tewas akibat kecelakaan kerja di PT ASL Shipyard, Kamis (7/9/2017) lalu.

Bustama (48), ayah kandung Faisal mengatakan, hingga satu minggu lebih berlalu, janji dari pihak perusahaan untuk memberikan bantuan belum juga diterima oleh pihak keluarga bahkan hingga saat ini.
"Sampai saat ini, kami belum mendapat uang yang dijanjikan itu," ujar Bustama saat ditemui di kediamanya di RT 02/ RW 16 Tanjunguncang, Jumat (15/9/2017).

Padahal atas kejadian itu, kata Bustama, pihak perusahaan PT ASL Shipyard menyatakan bakal memberikan uang santunan bagi keluarga korban. "Dari perusahaan katanya mau bantu, tapi sampai sekarang belum ada pembicaraan," ujarnya lagi.

Untuk itu, jika memang betul ada bantuan dari perusahaan dan asuransi, rencananya akan dia gunakan untuk biaya sekolah anaknya dan keperluan keluarganya.

"Semoga itu ada. Karena yang saya harapkan sekarang bantuan dari pihak perusahaan dan asuransi BPJS Ketenagakerjaan anak saya," ujarnya lagi.

Faisal anak ketiga dari enam bersaudara ini merupakan tulang punggung keluarga untuk biaya sekolah ketiga adiknya. Faisal menjadi tulang punggung keluarganya sejak dia lulus sekolah empat tahun lalu.

"Saya sudah tua, kakaknya sudah tak bekerja lagi, sedangkan adik-adiknya masih sekolah," ujarnya dengan sedih.

Bustama sendiri hanya kerja tukang cuci motor di doorsmeer miliknya dengan pendapatan yang tak menentu. "Kadang ada, kadang tidak. Karena itu saya sangat berharap sekali dengan anaknya saya Faisal ini," ujarnya.

Sebelum anaknya meninggal, Bustama mengaku tidak menemukan hal yang aneh. Namun sehari sebelum peristiwa nahas itu terjadi, Faisal mengalami kecelakaan kerja, kepalanya dijahit karena ada luka robek.

"Walaupun sedang sakit dia tetap masuk kerja. Kalau dia tak masuk kerja mungkin lain ceritanya. Tapi saya ikhlas karena ini sudah janjian yang di atas," tutupnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, kapal tanker Gamkonora milik Pertamina yang sedang dikerjakan di PT ASL Siphiyard terbakar, Kamis (7/9/2017) sore. Akibat kejadian itu lima orang pekerja dari subkon PT Sinar Cendana tewas. Lima korban tersebut adalah, Nimrot Hutagalung, Onik Saputra, Faisal Koto, Rusli Tan dan Milik Majida.

Kebakaran terjadi diduga karena kurangnya pengawasan perusahaan atas keselamatan para pekerja. Informasi yang diperoleh dari pihak kepolisian dan pekerja sebelum terjadi kebakaran itu, ada sekelompok pekerja yang sedang mengerjakan bagian tangki mesin kapal dengan mengunakan alat las.

Sebelum dilakukan pengerjaan, seharusnya dekat lokasi yang dikerjakan, harusnya bersih dari sisa-sisa minyak. Saat dilakukan pengelasan, di lokasi harus terus di siram air. Namun, dari keterangan pekerja itu tidak dilakukan oleh pekerja tersebut.

Atas kejadian itu, pihak kepolisian menduga jika petugas safety (keamanan) perusahaan yang mengamankan tidak maksimal mengawasi para pekerja. Petugas safety seharusnya memastikan kapal yang akan direpair harus steril. Safety juga harus turun ke lokasi yang akan dikerjakan itu untuk memastikan oksigen dalam ruang yang dikerjakan.

Diduga karena kelainan pihak perusahaan itu lah, kapal tanker Pertamina Gamkonora terbakar karena percikan api las mengenai tangki kapal yang masih ada sisa-sisa minyak.

Editor: Udin


BNN-KEPRI