Rivalitas Politik yang Luluh Oleh Kebhinekaan
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 15-09-2017 | 09:02 WIB
sby_dan_megawati.jpg
Dua mantan presiden RI, SBY dan Megawati bertemu di Istana Negara. (Foto: BBC)

Oleh Ricky Rinaldi

SERINGKALI kita masih mengartikan kemerdekaan sekadar perlombaan balap karung dan panjat pinang, pemasangan umbul-umbul di lingkungan atau bahkan pemasangan bendera Merah Putih di depan rumah kita masing-masing. Perayaan ini bukan sekadar pesta atau kemeriahan sesaat yang tidak memiliki makna.

Kemerdekaan adalah soal sikap mental mencintai Indonesia, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk perbuatan baik bagi sesama tanpa memandang perbedaan yang ada. Perayaan ini diharapkan menjadi refleksi tentang perjuangan bangsa agar tidak hanya sebatas pesta hura-hura, tapi benar-benar menyentuh makna kemerdekaan itu sendiri.

Pada peringatan Hari Kemerdekaan di Istana Negara tampak pemimpin dan mantan pemimpin negara kita berkumpul mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka yakni Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri, Presiden ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie, serta Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Atmosfer persatuan kelihatannya terasa sangat berbeda dan lebih kuat pada kondisi ini dikarenakan sangat jarang acara kenegaraan menggunakan pakaian adat. Ada suatu nilai dan pesan yang ingin disampaikan oleh pemimpin negara kepada publik terkait kebhinnekaan Indonesia.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menjadi contoh bagi bawahannya. Konsep ini menjadi konsep yang cocok untuk menggambarkan kondisi ini. Semoga masyarakat kita juga terkesan dengan kondisi ini dan mencontoh hal tersebut.

Sayangnya, contoh ini sempat hilang dikarenakan rivalitas politik yang terjadi belakangan ini, bahkan konflik ini merambat hingga ke masyarakat luas. Ini adalah pertama kalinya SBY menghadiri upacara kemerdekaan di Istana setelah lepas jabatan sebagai Presiden RI. Sementara, Megawati juga tidak pernah hadir di Istana selama sepuluh tahun SBY menjabat.

Namun, apa yang kita lihat pada perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus lalu sangat melegakan. Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa urusan ataupun pilihan politik bisa berbeda-beda, namun kalau sudah bicara urusan NKRI harus bersama dan bersatu. SBY dan Megawati berani menekan rasa ego mereka dan terlihat akrab pada saat peringatan Hari Kemerdekaan.

Rivalitas politik belakangan ini menjadi badai yang membuat renggang hubungan beberapa tokoh negara kita, namun sepertinya para tokoh negara ini dapat mengambil pelajaran dari permasalahan tersebut untuk semakin memperkuat hubungan.

Para pemimpin negara sudah memberikan contoh yang sangat mulia. Alangkah lebih baik jika kita sebagai rakyat juga turut menekan ego masing-masing dan mencontoh seperti yang dilakukan pemimpin kita. Rivalitas hanyalah sebatas persaingan, sementara permusuhan yang dibesar-besarkan akan menghancurkan negara ini. *

Penulis Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP Universitas Indonesia


BNN-KEPRI