Pimpinan Dewan Bingung Tentang Status Defisit APBD Pemko Tanjungpinang
Oleh : Habibi Khasim
Kamis | 14-09-2017 | 10:26 WIB
ade-angga-dewan-TPI.gif
Pimpinan DPRD Tanjungpinang, Ade Angga. (Dok Batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Pimpinan DPRD Tanjungpinang, Ade Angga mengaku bingung dengan status defisit pada APBD Perubahan Kota Tanjungpinang yang belum lama ini beredar. Pasalnya, saat rapat paripurna penyampaian pidato nota kebijakan umum KUA-PPAS APBD-P Kota Tanjungpinamg tahun 2017, Selasa (12/9/2017) Pemko mengklaim terjadi peningkatan sebesar Rp35,185 miliar.

Pertambahan ini sekaligus memastikan terjadinya kenaikan dari estimasi pendapatan yang tertuang pada APBD 2017 sebelumnya sebesar Rp906,5 miliar menjadi Rp941,68 milar. Kenaikan pendapatan asli daerah ini persentasenya mencapai 30,21 persen dari PAD yang ditargetkan pada penyusunan APBD 2017 lalu.

Bahkan, Ade mengaku, karena bingung dengan isu defisit dan peningkatan APBD Perubahan, dia sampai mempertanyakan hal tersebut kepada salah satu tim TAPD yang tidak disebutkan namanya.

"Saya pertanayakan dengan salah satu tim TAPD yang hadir pada paripurna kemarin. Katanya defisit, tapi kok malah naik? Terus katanya kenaikan itu karena ada anggaran dari Pemerintah Pusat yang masuk dan tidak bisa diganggu gugat," tutur Ade.

Dijelaskan Ade kembali, dana yang tidak bisa diganggu gugat tersebut seperti Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) serta tunda bayar yang tahun lalu belum dibayarkan.

Akan tetapi, menurut Ade, pihak Dewan masih berasumsi bahwa memang Pemerintah Kota Tanjungpinang mengalami defisit. Hal itu dikarenakan, dana yang masuk merupakan dana yang telah jelas peruntukannya.

"Tapi mengenai jelasnya, biar lebih akuntabel dan terbuka, tentunya dalam pembahasan nanti baru diketahui. Yang jelas, kita berasumsi memang Tanjungpinang mengalami defisit. Karena dana yang masuk sudah jelas peruntukannya dan pada pembahasan APBD murni kemarin kegiatan yang dianggarkan hanya 10 bulan, sementara masih ada sisa dua bulan lagi," tutur Ade.

Editor: Gokli


BNN-KEPRI