Sutradara Livi Zheng Angkat Pamor Seni Budaya Indonesia ke Dunia
Oleh : Redaksi
Rabu | 30-08-2017 | 08:50 WIB
livi.jpg
Livi Zheng (ke-2 dari kanan) bersama kru kamera saat syuting di Indonesia (Foto: Dok Livi Zheng)

BATAMTODAY.COM, Washington DC - Sutradara film Hollywood, Livi Zheng, yang terkenal lewat film perdananya "Brush with Danger," saat ini tengah menggarap beberapa proyek film di Indonesia.

Belum lama ini ia kembali ke kota kelahirannya, Blitar, dan bekerjasama dengan Bupati Blitar, Drs. H. Rijanto, M. M., untuk menggarap film yang bertujuan untuk meningkatkan potensi kota Blitar.

“Saya langsung setuju. Blitar menjadi tidak terpisahkan dari sejarah penting lahirnya Indonesia. Dimana bukti peninggalan sejarah telah diketahui, bahwa Blitar menjadi tempat persemayaman Raja Anusapati dan Raja Raden Wijaya. Di samping itu, Bapak Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dimakamkan di sana. Mantan Wapres, Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec juga berasal dari Blitar,” jelas sutradara kelahiran tahun 1989 ini.

Belum lama ini juga Livi Zheng dianugerahi dua penghargaan dari kota kelahirannya yang diberikan langsung oleh Bupati Drs. H. Rijanto, M. M. Dua penghargaan tersebut adalah “Brand Ambassador,” sebagai perwakilan warga Blitar yang berkarir di Hollywood, dan “Aryo Blitar Award,” sebagai “Most Inspiring” atau kategori sosok paling inspiratif.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menerima penghargaan ini. Saya besar di Blitar dan keluarga saya berasal dari Blitar. Blitar memiliki tempat yang sangat spesial di hati saya. Saya selalu rindu orang-orang dari Blitar dan juga makanannya,” papar Livi Zheng saat dihubungi oleh VOA belum lama ini.

Bagi Livi, syuting film di Indonesia merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Sejak terjun ke industri film, Livi memang selalu berusaha memasukkan unsur-unsur Indonesia, seperti dentingan gamelan yang terdengar dalam adegan pembuka untuk film "Brush with Danger," yang pernah masuk dalam daftar film Hollywood yang berpotensi mendapat nominasi Oscars tahun 2015 dan pencak silat yang dipertunjukkan dalam film "Insight" yang dirilis tahun ini.

Tidak hanya itu, kerap kali ia juga memperkenalkan kebudayaan beserta kuliner Indonesia kepada para krunya yang adalah warga lokal Amerika.

Berbicara mengenai tantangan syuting di Indonesia, Livi mengatakan bahwa mencari peralatan film di Los Angeles lebih mudah dibandingkan dengan di Indonesia.

“Agak sulit untuk menemukan (peralatan film), terutama jika bukan di Jakarta,” paparnya.

Saat ini Livi tengah menggarap dua film di Sukabumi. Salah satunya berjudul “Second Chance,” dimana dalam film ini ia menampilkan adegan menantang yang penuh dengan trik yang dilakukan oleh empat pengendara motor asal Indonesia. Film lain yang juga tengah digarapnya “Life is Full of Surprises,” yang menampilkan ilmu cambik api, sepak bola api, dan pencak silat.

“Kita lagi (membuat) koreografi. So, I think it will be cool. Kita akan syuting pada malam hari,” ujar perempuan yang memulai karirnya sebagai pemeran pengganti di usia 15 tahun ini.

Ini bukan pertama kalinya lulusan S2 dari University of Southern California jurusan film ini mengangkat kebudayaan Indonesia ke dalam film. Beberapa waktu lalu ia menggarap film yang diberi judul “Bali: Beats of Paradise,” yang mengangkat kebudayaan Bali beserta masyarakatnya dari kisah kehidupan pasangan I Nyoman Wenten dan Nanik Wenten, instruktur gamelan dan tari tradisional profesional yang sudah mengajar di berbagai negara dan kini berdomisili di California, Amerika.

I Nyoman Wenten sendiri saat ini menjabat sebagai professor jurusan etnomusikologi di University of California at Los Angeles (UCLA). Rencananya film “Bali: Beats of Paradise” akan tayang di bioskop Amerika tahun depan.

Tidak hanya kebudayaan Bali yang menarik perhatian sutradara kelahiran tahun 1989 ini. Setelah berkolaborasi dalam yang berjudul “Insight,” Livi kembali menggaet aktor Yayan Ruhiyan untuk menggarap film tentang karapan sapi Madura, yang belum lama ini berhasil masuk ke dalam ‘Official Selection’ di festival film Asian Critics Week di India.

“Film karapan sapi judulnya “the Bull Race.” Aku ke Madura shoot bareng mas Yayan Ruhiyan. Saya sangat senang “the Bull Race” mendapat perhatian di festival film dunia. Selalu menjadi mimpi saya untuk mengangkat Indonesia ke layar lebar,” ujar pemegang lebih dari 25 medali untuk kejuaraan karate nasional di seluruh Amerika ini.

Menurut Livi karapan sapi bukanlah sekedar balapan biasa. “Sebelum balapan ada ritual panjang. Ada doanya. Sapi dikasih banyak telor. Ada sapi dimandikan. Dan merupakan kebanggaan jika sapi kamu menang. So people spend a lot of money for this,” tambahnya.

“Sekarang sangat mudah untuk membuat film, bahkan dengan menggunakan telpon kamu. Kalau kamu adalah petinju, kamu harus latihan setiap hari. Tapi jika kamu adalah pembuat film, cara kamu berlatih adalah dengan menggarap film,” pungkas Livi.

Sumber: VOA Indonesia
Editor: Dardani


BNN-KEPRI