Kisah Pengayuh Becak Bertahan Hidup di Kota Sandarnya Kapal Laksamana Cheng Ho
Oleh : Harjo
Senin | 21-08-2017 | 10:14 WIB
cirebon-77.gif
Wartawan BATAMTODAY.COM saat berkunjung ke kawasan pariwisata kapal Tomodahci dengan Laksamana H Muhamad Cheng Ho. (Dok Pribadi)

BATAMTODAY.COM, Cirebon- Perjuangan seorang buruh pengayuh becak, Roni (33) dalam bertahan hidup di kota tempat sandarnya kapal Laksamana Cheng Ho, Cirebon tergolong unik. Sebab, ia yang sudah memiliki istri dan satu orang anak berusia 1 tahun, rela tidak berkumpul dengan keluarganya karena pertimbangan ekonomi.

Kepada wartawan BATAMTODAY.COM saat menelusuri sudut Kota Cirebon (20/8/2017) menceritakan, lebih memilih untuk merantau ke Cirebon dan meninggalkan anak istri bersama mertuanya di Indramayu. Semua itu, lantaran dia tidak menghendaki anak dan istrinya menderita dan memilih berjuang mengais rupia di Cirebon.

"Dulu kami dengan istri sama-sama kerja, tetapi setelah punya anak istri pulang kampung dan hanya mengurus anak dan membesarkan anak. Saya memilih bertahan di sini agar bisa menafkahi mereka di kampung," katanya.

Bicara pendapatan, Roni nasifnya serupa dengan puluhan buruh pengayuh becak lainnya. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan sewa, tidak jarang terpaksa tidur di atas becak, pinggiran trotoar jalan raya yang menjadi salah satu awal masuknya kapal Tomodachi membawa saudagar asal China yang terkenal Laksamana H Muhamad Cheng Ho ini.

Di mana dalam hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai pesatnya teknologi dan pembangunan diberbagai bidang, mereka masih berjuang hidup dengan mengandalkan menyewa becak Rp5.000/hari dari majikannya.

"Saya belum memiliki becak sendiri, karena kalau mau beli harga mahal. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, kadang-kadang sulit. Beruntung kalau ada tamu yang berbaik hati, dia memberi bayaran lebih," imbuhnya.

Untuk Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dikisaran Rp1,7 juta/bulan, untuk penghasilannya rata-rata Rp30 - 40 ribu/hari. Artinya untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya saja masih jauh dari mencukupi standar kebutuhan layak seorang lajang.

Namun dengan penghasilan seperti ini, dia masih terus bertaham dan bersyukur, beruntung untuk tempat tinggal dia tidak mengontrak. Namun ada tempat tinggal yang disediakan oleh pemilik becak tempatnya menyewa.

"Sebagian besar yang menyewa memang tinggal di tempat pemilik becak atau majikan. Itu yang sedikit mengurangi pengeluaran dan uangnya bisa diberikan anak dan istri," paparnya.

"Saat ini, hanya bisa mensyukuri dan berdoa ke depan kehidupan dan ekonomi bisa lebih baik lagi. Bisa mendapatkan peluang kerja dengan penghasilan lebih, agar bisa membesarkan dan menyekolah anak. Karena memang saya sendiri tidak memiliki pendidikan sekolah tinggi," angannya.

Editor: Gokli


BNN-KEPRI