Peserta Protes Tim Pansel Bawaslu Kepri Dinilai Tak Transparan
Oleh : Hadli
Rabu | 16-08-2017 | 17:26 WIB
sesalkan-pansel-bawaslu-kepri.gif
Rini Elfina SE MSi saat melakukan jumpa Pers (Sumber foto: Batam Click)

BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) memiliki peran dan tugas yang berat menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) yang dimulai pada tahun 2018 mendatang. Tentunya anggota Bawaslu juga harus idenpenden, berdiri sendiri, menangkis serangan politik yang bertubi-tubi dari intervensi.

Sehingga masyarakat akan mendapatkan para pemimpin yang beramanah menjalankan roda pemerintahan dan sebagai perpanjangan tangan wakil rakyat, atas kinerja Panwaslu yang profesional.

Namun bagaimana jika Tim Panitia Seleksi (Pansel) Bawaslu Kepulauan Riau dianggap tidak transparan dalam memberikan hasil setiap tahapan uji calon anggota Bawaslu?

Rini Elfina SE MSi, Marlina ST, Marhamah Riahawati SH, Syarifah Teja Pradiksana, Aulia Rochmi dan calon Bawaslu lainnnya, yang dianggap gugur berpendapat, telah terjadi kekeliruan dalam proses seleksi calon Bawaslu Kepulauan Riau yang dilakukan di beberapa tempat di Batam.

"Kalau saya tidak lolos saya terima. Cuma yang saya sesalkan prosesnya kurang transparan dan tidak profesional dari tim. Kalau setiap hasil tesnya tidak disampaikan kepada peserta, kita jadi tidak tahu di mana letak kesalahan kita. kawan-kawan juga berpendapat seperti itu," kata Rini Elfina kepada BATAMTODAy.COM, Rabu (16/08/2017).

Dikatakannya, pada saat mengikuti CAT (Computer Assisted Test) di Politeknik Batam, beberapa jam kemudian panitia mengatakan akan memberikan hasil tes peserta melalui papan pengumuman. Namun, papan pengumuman hasil tes yang dijanjikan tidak dicantumkan panitia di mading Poltek.

"Setelah kita cari-cari tidak ada hasil tesnya, di sekuriti bilang juga tidak ada, panitia langsung pulang," kata dia.

Setelah mengkuti tes tersebut, dari 43 peserta di antaranya sebanyak 12 peserta mengikuti tes kesehatan di RS Bhayangkara Polda Kepri, Batubesar, Batam. "Tes Kesehatan, Psikologi serta wawancara telah dilalui, panitia juga mengatakan akan mengumumkan hasilnya.

"Tapi ternyata juga tidak ada. Saya pikir proses ini akan dilakukan dengan transparan dengan memberikan hasil tes, tapi ternyata tidak. Panitia hanya mengumumkan nama-nama calon yang lolos. Yang tidak lolos tidak disampaikan hasilnya. jadi tidak tahu sama sekali kesalahan atau kelemahan kita," kata Rini lagi.

Rini menegaskan, akan menyurati Pansel Bawaslu Kepri dan akan ditembuskan pada Bawaslu Kepri, Bawaslu Pusat serta Ombudsmen Kepri. "Tes Psikologi itu bukan menentukan waras atau tidak warasnya seseorang. Jadi kenapa tidak diumumkan semua hasil dari tahapan tes tersebut," tantang Rini.

Tes CAT, Kesehatan dan Psikologi bukan pertama kali dilakukannya bersama calon anggota Bawaslu yang lain. Rini mengaku sudah tidak asing lagi dengan serangkaian kegiatan ini. Namun, kali ini berbeda. Dugaanya, seperti ada yang ditutupi untuk meloloskan calon yang ditunjuk dari awal, mengawali Pemilu mendatang.

Hal senada juga disampaikan oleh Dedi Suwadha, calon anggota Bawaslu yang digugurkan Pansel pada tes administrasi.

Dedi menceritakan, Pansel tidak pernah berkomunikasi kepadanya. Padahal tim Pansel sendiri yang sebelumnya berjanji akan menghubunginya jika ada berkas yang kurang.

"Tanggal 31 Juli 2017, saya daftar dan masukkan berkas. Berkas saya diterima oleh anggota Pansel dan diperiksa serta semua dinyatakan lengkap dengan mencontreng semua kotak pada lembar pemeriksaan berkas. Saat itu saya diberikan lembaran pendaftaran bernomor 46 dan anggota Pansel yang menerima berkas saya itu berjanji akan menghubungi saya, jika memang ada berkas saya yang belum lengkap dan harus dilengkapi," kata Dedi.

Namun, kata dia, hingga tanggal 2 Agustus, hari terakhir melengkapi kekurangan berkas, Dedi tak pernah dihubungi Pansel. Ia baru dihubungi melalui SMS pada tanggal 4 Agustus 2017, sekitar pukul 16.30 WIB.

"Saya disuruh mengantar fotocopy ijazah yang dilegalisir, katanya malam itu juga mau pleno penentuan. Posisi saya lagi di Nagoya, dokumen di rumah, kapal terakhir Batam-Tanjungpinang 17.30 Wib, mana mungkin terkejar, jalan macet. Ini yang membuat saya berfikir Pansel memang sengaja hendak menggugurkan saya, karena memberitahu sudah bukan di waktu yang bukan tahapannya, secara mendadak dan mustahil saya bisa melakukannya," papar Dedi.

Karena Dedi sehari-hari berprofesi sebagai wartawan, ia mengaku sudah berkoordinasi hal ini kepada Ketua PWI Kepri.

"Saya berdiskusi dengan pengurus PWI dan sejumlah wartawan senior lainnya. Mereka juga minta agar hal ini ditelusuri dan dibuka faktanya secara adil, bukan karena emosi pribadi," katanya.

Selain itu, PWI Kepri juga telah meyiapkan draf protes ke Bawaslu RI dan instansi terkait agar bisa ditindak-lanjuti bahwasanya ada ketidak-beresan. "Dalam waktu dekat ini akan dikirim PWI," kata dia.

Editor: Udin


BNN-KEPRI