Warga Guam hanya Punya 14 Menit untuk Selamatkan Diri dari Rudal Korut
Oleh : Redaksi
Sabtu | 12-08-2017 | 18:38 WIB
Guam.gif
Salah satu sudut Guam yang memperlihatkan dengan jelas ikatan pulau itu dengan Amerika Serikat.(Sumber foto: AFP)

BATAMTODAY.COM, Guam - Di tepi laut yang berwarna biru di pesisir Guam, Marco Martinez dengan tenang mempersiapkan peralatan memancingnya.

Pria berusia 27 tahun itu siap melemparkan mata kailnya sejauh matanya bisa memandang.

Martinez amat tenang meski di perairan itulah, hanya berjarak kurang dari 40 kilometer dari lokasinya berdiri, Korea Utara berencana menjatuhkan empat misil antar-benuanya.

"Jika itu terjadi, maka terjadilah. Namun, saya mencoba untuk tak memikirkannya," ujar Martinez kepada CNN.

Martinez memang lahir dan dibesarkan di pulau berpenghuni sekitar 16.000 jiwa itu dan sudah akrab dengan ancaman Korea Utara.

Salah satunya terjadi pada 2013, ketika Pyongyang menyebut pulau itu masuk dalam jarak tembak misil-misil antarbenuanya.

Bahkan, uji coba terakhir yang dilakukan Korea Utara memastikan bahwa Guam memang masuk dalam jarak tembak.

Rencana untuk menembak Guam, yang adalah pangkalan militer AS di Samudera Pasifik, sudah digembar-gemborkan Korea Utara.

Namun, tak seorang pun tahu apakah Kim Jong Un, sang pemimpin tertinggi Korea Utara, akan merestui serangan terhadap Guam.

Pyongyang memperkirakan, misil-misilnya akan jatuh dalam jarak 12 mil laut di luar wilayah perairan Guam tetapi masih berada di dalam ZEE pulau itu.

Jika Guam benar-benar diserang, maka tak banyak waktu bagi warga pulau itu untuk berlindung atau melarikan diri.

Penasihat Keamanan Guam George Charfauros pada Jumat (11/8/2017) mengatakan, misil itu hanya membutuhkan waktu 14 menit untuk tiba di pulau tersebut sejak ditembakkan dari Korea Utara.

Apakah fakta itu membuat warga Guam panik? Ternyata seperti Martinez warga lain di pulau itu tetap menanggapi ancaman tersebut dengan santai.

Salah satu hal yang membuat warga Guam tenang adalah keberadaan pangkalan militer AS yang mencakup hampir sepertiga wilayah pulau tersebut.

Warga Guam nampaknya yakin, militer AS dengan segala peralatannya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario yang paling buruk.

Meski demikian, bukan berarti warga Guam sama sekali tak khawatir. Setidaknya itulah yang disampaikan Jodiann Santos, staf di Museum Guam.

"Kami diminta tetap tenang karena kami terlindungi dengan baik. Namun kenyataannya kami bisa berada di sini hari ini dan mati di esok hari," ujar Jodiann.

Untuk menenangkan warga, Gubernur Guam Eddie Calvo mengatakan, pulau itu aman terlindungi termasuk dengan sistem pertahanan anti-misil THAAD yang dirancang khusus untuk menembak jatuh misil balistik.

"Tak ada kepanikan di Guam. Saya bukan ingin meremehkan situasi. Kami memahami adanya ancaman, tetapi kami juga tak ingin menakuti warga dan tak ingin menyimpulkan sesuatu berdasarkan retorika," ujar Salvo.

Kembali ke pantai tempat Marco Martinez memancing. Pria bertubuh gempal itu mengatakan, meski mencoba tenang ancaman Korea Utara tetap terngiang di benaknya.

"Kadang saya merasa warga ketakutan tetapi tak ingin memperlihatkannya, tak ingin mengekspresikan ketakutan itu," kata Martinez.

"Manusia memang seperti itu, mereka tak ingin ketakutan di dalam hatinya diketahui," lanjut Martinez.

Sumber: CNN
Editor: Udin


BNN-KEPRI