Sosialisasi Penyesuaian Tarif Listrik di Sagulung Ricuh
Oleh : Yosri Nofriadi
Jumat | 11-08-2017 | 14:51 WIB
Ricuh-sosialisasi1.gif
Kericuhan saat sosialisasi kenaikan tarif PLN. (Foto: Yosri)

BATAMTODAY.COM, Batam - Sosialisasi rencana penyesuaian kenaikan tarif dasar listrik tahap ke II sebesar 15 persen oleh Bright PLN Batam di Kantor Camat Sagulung pada Jumat (11/8/2017) ricuh.

Warga yang menolak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) menyerang seorang yang setuju dengan kenaikan TDL yang memberatkan masyarakat. Penyerangan itu terjadi saat seorang yang bernama Askarmin sebagai Akademisi dosen Unrika mencoba menangkapi sejumlah pertanyaan warga yang menolak kenaikan TDL yang dianggap memberatkan itu.

Warga tak terima sebab pertanyaan- pertanyaan yang seharusnya di jawab pihak PLN yang memberikan sosialisasi malah dijawab oleh Askarmin.

"Kausiapa? warga mana? tau apa kau dengan kondisi ekonomi saat ini. Banyak ngomong kau. Kami menolak
karena kami tak mampu, kau pula yang menjawab untuk belain PLN, dibayar berapa kau sama PLN. Keluarkan dia dari ruangan ini," teriak seorang peserta sosialisasi.

Warga tak hanya mencecar dengan sejumlah pertanyaan dengan tanggapan Askarmin itu, Askarmin juga di kejar lantaran sudah emosi. Suasana ruangan sosialisasi jadi ricuh. Petugas gabungan dari Satpol PP dan Polisi Polsek Sagulug harus turun tangan untuk mengamankan Askarmin dari amukan warga. Untuk meredam situasi Askarmin digiring keluar ruangan dan diamankan ke dalam kantor Camat Sagulung.

"Ayo keluar dulu bang, jangan dijawab ini situasi sudah panas," ujar salah satu anggota Satpol PP.

Askarmin mengatakan, perbedaan pendapat yang terjadi saat diskusi itu adalah hal biasa. Dia mengaku memberikan keterangan sesuai dengan ilmu yang dimilikinya dan tidak berpihak kepada siapapun.

"Saya berada dipihak yang netral, saya tak membela PLN dan saya tak dibayar. Saya cuma memberikan keterangan sesuai dengan apa yang saya miliki," ujar Askarmin.

Solider Sinaga, Kepala Devisi Niaga PLN Bright Batam dan sebagai pembicara mengatakan, saat ini pihaknya mengalami kerugian setiap bulan Rp 16 miliar. Meskipun konsumsi listrik dari pelanggan rumah tangga sangat naik dari tahun 2015 sampai 2017.

Dimana angka konsumsi listrik pada 2015 hanya 32 persen, 2016 naik menjadi 37 persen, sementara pada 2017 meskipun baru memasuki bulan Agustus angkanya hampir menyamai pada tahun 2016.

"Listrik rumah tangga selama ini ditopang atau mendapat subsidi oleh Industri dan Bisnis. Tapi kawasan Industri mengalami penurunan sampai saat ini. Kami mengalami kerugian setiap bulanya sebanyak Rp 16 Miliar," ujarnya.

Kerugian Bright PLN, lanjutnya, dipengaruhi oleh nilai tukar kurs dollar, harga energi primer seperti batubara dan gas serta Inflasi. Sementara 86 persen pelanggan Bright Batam hanyalah rumah tangga. Sementara pelaku bisnis dan industri di Batam tidak berkembang. Hal ini menyebabkan Bright Batam merugi.

Bright Batam juga sudah melakukan beberapa hal untuk menutupi kerugiannya. Diantaranya dengan menekan angka kebocoran. Saat ini, angka kebocoran Broght PLN Batam berada pada 4,9 persen. Hal ini dinilai sudah sangat baik mengingat, standar nasional tingkat kebocoran listrik adalah lima persen. Selain itu, Bright Batam juga telah mencoba mengganti bahan bakar pembangkit dengan yang paling murah.

"Ibarat ikan kami sekarang sudah menguap-nguap," ujar Solider.

Sosialisasi itu dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat Sagulung. Sosialisasi ini sengaja menyasar Kecamatan Sagulung karena, beberapa waktu lalu warga Sagulung merupakan barisan terdepan melakukan penolakan.

Editor: Yudha


BNN-KEPRI