Sebagai ASN, Akib Diminta Profesional dalam Bekerja
Oleh : Habibie Khasim
Sabtu | 22-07-2017 | 18:50 WIB
Ahmad-Dani,-Wakil-Ketua-II-DPRD-Kota-Tanjungpinang-728x349.gif
Wakil Ketua II DPRD Kota Tanjungpinang, Ahmad Dani (Foto: dok.batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang, Ahmad Dani, meminta agar setiap Aparatur Sipil Negera (ASN) profesional dalam bekerja.

Hal ini juga ditujukan kepada Sekretaris DPRD Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim atau akrab disapa Akib, yang baru-baru ini mengajukan pengunduran diri dari jabatannya.

Dani berpendapat bahwa profesionalitas dari seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya eselon II memang dituntut lebih besar. Maka dari itu, jika ada sebuah masalah, kalau mengundurkan diri, Dani mengaku tidak sepakat.

"Namun, kalau Pak Akib kan katanya masalah pribadi, yaitu orangtua. Ya kalau masalah itu, kita tidak bisa komentar, itu tinggal Wali Kota. Keputusan beliau bagaimana," kata Ahmad Dani saat ditemui di Rumah Hanura, belum lama ini.

Ahmad Dani mengatakan, jika Wali Kota Tanjungpinang meminta Akib menyelesaikan terlebih dahulu ke internal dewan, dia mengaku hingga saat ini belum ada hal itu dilakukan kepadanya.

"Kepada saya pribadi belum ada, tapi nggak tau kalau sama pimpinan atau Pak Ade Angga," tutur Dani.

Dani sedikit menyinggung ketika ditanya tentang Akib. Dia mengatakan, harusnya secara aturan, pemilihan Sekwan harus berdasarkan usulan dewan. Namun, khusus untuk Akib, Dani mengaku kalau Dewan tidak ada ikut campur. Dia langsung dipilih oleh Wali Kota Tanjungpinang dan Dewan hanya mengetahui saja.

Terkait rencana pengunduran diri Akib juga, kata Dani, memang sering didengarnya. Bahkan kepada Dani sendiri, secara lisan Akib sudah sering melakukannya. "Secara lisan sering, udah dari dulu," kata Dani.

Ditanya tentang adanya dugaan permasalahan internal di DPRD Tanjungpinang, antara Akib dan Anggota DPRD, Dani mengaku tidak mengikuti sampai se-detail itu. Akan tetapi, jika pun ada, kata politikus Hanura tersebut, wajar saja jika memang ada selisih paham dalam pekerjaan.

"Ya, wajar jikalau bekerja tidak sependapat. Kalau situsi kondisi suara agak kuat, itu biasa. Kalau eselon II janganlah terlalu menanggapi hal-hal seperti itu, udah banyak makan asam garam. Harusnya, hal seperti itu ditanggapi dengan kepala dingin," tutur Dani.

Dani berharap, masalah ini dapat segera selesai, sehingga tugas Sekwan tidak ada yang keteteran. "Jika pun diganti, ya diganti. Jika tidak, bekerjalah dengan profesional, karena tugas kita besar," kata Dani.

Editor: Udin


BNN-KEPRI