Saat Qatar Alami Krisis Diplomatik, Turki Malah Unjuk Kekuatan di Doha
Oleh : Redaksi
Selasa | 20-06-2017 | 17:26 WIB
tentara-turki.gif
Militer Turki dan Qatar melakukan latihan militer bersama yang dimulai sejak Minggu (18/6/2017).(Sedat Suna/EPA)

BATAMTODAY.COM, Doha - Pasukan Turki sudah tiba di Doha untuk mengikuti latihan gabungan, kata Kementerian Pertahanan Qatar, Senin (19/6/2017), saat krisis diplomatik yang membelit negaranya memasuki pekan ketiga.

Mengutip kementerian tersebut, The Guardian, melaporkan bahwa latihan pertama dilakukan pada Minggu kemarin di pangkalan militer Tariq bin Ziyad di Doha.

Qatar telah menjadi korban dari embargo dan pengucilan oleh sejumlah negara Arab yang dipimpin Saudi Arabia sejak 5 Juni 2017.

Saat itu, Riyadh dan sekutu-sekutunya termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik atas Qatar yang dituding mendukung terorisme.

Doha telah berulangkali menyangkal tudingan Riyadh dan sekutunya, serta dengan tegas menolak intervensi negara lain atas kebijakan politik luar negeri sebagai negara yang berdaulat.

Turki, salah satu sekutu terkuat Qatar, telah memberikan dukungan diplomatik dan menerbangkan bantuan pangan ke Doha untuk mengatasi blokade pangan dari negara-negara Arab.

Sementara kantor berita Perancis, AFP, melaporkan, latihan bersama Turki dan Qatar bertujuan meningkatkan "efisiensi tempur pasukan keduanya”.

Kedua negara sahabat itu berencana untuk melakukan operasi gabungan guna memberantas ekstremisme dan terorisme, dan operasi penjaga perdamaian sebelum dan sesudah operasi militer."

Latihan "sudah direncanakan selama beberapa waktu," kata pernyataan yang ditulis dalam bahasa Arab itu.

Pada Senin ini, Doha menuduh lawan-lawan regionalnya telah melakukan "aksi publisitas" yang bertujuan untuk menyerang citra dan reputasi Qatar.

"Blokade telah berlangsung selama dua minggu dan negara-negara pemblokir tidak menawarkan formula untuk menyelesaikan krisis," kata Sheikh Saif bin Ahmed al-Thani, juru bicara pemerintah Qatar.

"Negara-negara yang memblokade tampaknya lebih tertarik menyerang Qatar di media daripada menyerang para teroris di medan perang," katanya.

Sumber: The Guardian
Editor: Udin


BNN-KEPRI