Sosialisasi Empat Pilar

Ideologi Pancasila Bangsa Indonesia Sudah Final
Oleh : Roni Ginting
Senin | 19-06-2017 | 13:50 WIB
sosialisasi-empat-pilar1.gif
Anggota DPD RI Djasarmen Purba sosialisasi empat pilar kepada komunitas pekerja Tunas Optimis Batam. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI terus melakukan sosialisasi Empat Pilar tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Anggota MPR RI Djasarmen Purba, SH yang juga merupakan anggota DPD RI dapil provinsi Kepulauan Riau menggelar sosialisasi Empat Pilar di Batam, Gedung Migasindo, Sabtu (17/6/2017) lalu bekerja sama dengan komunitas pekerja Tunas Optimis Batam. Peserta sosialisasi antara lain, Dewan Pengarah, Badan Pengurus Harian dan anggota komunitas.

Pria yang memiliki slogan HAI (Hidup Adalah Ibadah) tersebut dalam materinya mengemukakan, memasuki era reformasi maka TAP MPR RI No.2 dicabut, sehingga tugas melaksanakan kegiatan sosialisasi MPR RI ini baru dimulai kembali setelah mengevaluasi bahwa bangsa ini harus disosialisasikan tentang Ideologi negara Pancasila, serta berkehidupan dan kebangsaan yang baik dan benar melalui 4-Pilar MPR RI.

Saat ini, sosialisasi dilaksanakan secara meluas dan menyeluruh oleh MPR RI, dengan suatu target bahwa suatu ketika materi ini akan dimasukan kedalam kurikulum pelajaran di sekolah secara berjenjang.
Dikemukakan, metode penyampaian sosialisasi 4 Pilar MPR RI, selama ini sudah dilakukan dengan menganut 4 metode yakni sosialisasi, FGD (Focus Group Discussion), lomba cerdas-cermat, dan out bond.

"Saran untuk melaksanakan sosialisasi 4-Pilar MPR RI dengan menggunakan metode lomba cerdas-cermat sudah dilaksanakan selama ini, hanya frequensinya akan ditingkatkan di waktu yang akan datang," ujar Djasarmen.

Menurutnya, ideologi Pancasila yang dianut bangsa Indonesia merupakan hal yang final dan tidak bisa diutak atik lagi. Ideologi Pacasila terbukti telah mempersatukan anak bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

"Ideologi Pancasila sudah final, dan terbukti semua anak bangsa yang begitu heterogen mampu dipersatukan," katanya.

Kebhinekaan bangsa Indonesia, sangat luar biasa dan menjadi kekayaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Oleh sebab itu, Pancasila sebagai landasan utama bangsa, patut dan wajib dipertahankan. "Generasi muda, terutama komunitas pekerja, harus menjadi motor sosialisasi dan pengamalan nilai nilai kebangsaan," imbuh Djasarmen.

Ketika menanggapi pertanyaan peserta terkait politisasi agama dalam pilkada. Ia mengatakan, politisasi agama harus dihindarkan karena menyimpang dari aturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Politisasi agama yang sangat kentara saat ini adalah pada Pilkada Gubernur DKI Jakarta, sedangkan pada kegiatan pilkada di daerah lainnya tidak terjadi.

Hal ini sebenarnya disebabkan karena kelompok radikal dan intoleran ingin menggantikan dasar negara Pancasila dengan Piagam Jakarta. Demokrasi kita hendaknya tidak dipergunakan dan diarahkan secara sektoral atau identitas kelompok masyarakat tertentu.

"Demokrasi harus membangun pluralitas, silang sosial dan kebersamaan di dalam keragaman," pungkasnya.

Editor: Yudha


BNN-KEPRI