Ekspedisi Pertama Batamtoday.com di Tanah Papua

Tanah Emas, Ibu Bangsa Papua
Oleh : Saibansah
Sabtu | 03-09-2016 | 14:47 WIB
pantainabire.jpg

Pantai Nabire nan indah menjelang sunrise. (Foto: Rahmad)

TANAH adalah ibu, bagi bangsa Papua. Barang siapa yang "memperkosa" tanah, sejatinya telah memperkosa ibu. Maka, nyawa pun rela dikorbankan untuk membela kehormatan ibu. Itulah filosofi bangsa Papua tentang tanah dan segala sumber daya alam di bawah dan atasnya. Ada apa di perut bumi Papua? Emas! Berikut ini catatan perjalanan wartawan Batamtoday.com, Saibansah Dardani ke bumi Papua, tepatnya di Kabupaten Nabire, Minggu, 28 Agustus 2016 sampai Kamis, 1 September 2016.

Papua adalah buku yang tak akan pernah habis dibaca. Membentang seluas 808.105 km persegi, sebagai pulau terbesar di Indonesia. Papua juga pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan belantara.

Hamparan hujan tropisnya sulit ditembus, karena terdiri dari lembah-lembah yang curam dan pegunungan tinggi. Bahkan, sebagian dari pegunungan tersebut diliputi oleh salju. Tak heran jika sebagian orang menyebut, hutan Papua masih perawan. Dari puncak-puncak gunung di Papua itulah mengalir deras air sungai.

Ternyata, air yang mengalir dari puncak-puncak gunung itu tak hanya mengalirkan sumber kehidupan semata, tapi juga membawa serta "sumber kemakmuran", emas! Itulah makanya, para investor pun berlomba berebut izin agar dapat mendulang si kuning dari Papua itu. Di antara kabupaten yang kaya emas di Papua itu adalah Nabire.

Begitu mendarat di Bandara Douw Uturere, Minggu, 28 Agustus 2016, pukul 14.30 WIT, langsung terasa "Papua-nya". Di sana terparkir, pesawat-pesawat "capung" dan helikopter. Diantaranya, pesawat jenis Cessna Grand Caravan 208 berkapasitas penumpang 12 orang itu milik Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan bendera Susi Air. Pesawat-pesawat mungil itulah yang menghubungkan jarak Nabire dengan beberapa daerah lain di Papua yang belum bisa ditembus jalan darat.

Langit Nabire cerah sore itu. Suasana Pantai Nabire pun tampak begitu indah menjelang sunset. Pantai yang bebas akses bagi publik itu semakin ramai dengan kegiatan para pedagang kaki lima yang menawarkan aneka makanan. Pantai Nabire inilah spot favorit bagi warga Nabira untuk melepas senja.

"Di sini banyak anak-anak mudanya, turis yang datang untuk berfoto-foto juga banyak," ujar Levi, seorang warga Kota Nabire kepada Batamtoday.com.

Di seberang Pantai Nabire, berdiri kokoh Gerbang Nun Biru yang disanggah dengan lima pilar. Entah apa arti dari angka lima pilar itu. Yang pasti, bagi para turis yang belum berfoto di depan Pantai Nabire dan Gerbang Nun Biru, seolah belum "sah" telah menjejak kaki di calon ibukota Provinsi Papua Tengah itu.

"Kalau belum foto di situ belum sah, bapak," lanjut Levi sambil menunjuk land mark Kota Nabire itu.

Di balik keindahan pantai Kota Nabira itu, ternyata perut buminya mengandung emas yang menggiurkan. Buktinya, tahun 2009 lalu, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) telah menemukan cadangan emas baru berskala besar di wilayah Pegunungan Bintang, Papua.

Selain PT Antam, PT Nabire Bhakti Mining, PT Irja Estern dan PT Iriana Mutiara Indenberg juga menemukan cadangan kandungan emas yang sama. Tapi, mereka belum bisa melakukan kegiatan eksplorasi, karena terkandala perizinan lahan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

"Karena Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) sudah mengubah peta kawasan di sana dari hutan lindung menjadi konservasi, makanya mereka belum bisa melakukan eksploitasi. Sebenarnya sih bisa, asal underground (pertambangan bawah tanah)," ujar mantan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, R. Sukhyar di Jakarta, Selasa (23/12/2014) lalu.

Tahukah Anda, berapa jumlah cadangan yang ditemukan oleh perusahaan plat merah itu? 1 miliar ton!

Editor: Dardani


BNN-KEPRI