Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Puluhan Anak Rumah Asuh Assahi Batam Butuh Perhatian
Oleh : Hadli
Senin | 22-07-2013 | 16:13 WIB
panti asuhan assahi.jpg Honda-Batam
Ahmad (kanan) bersama dengan sejumlah anak asuhnya.

BATAM, batamtoday - Ahmad, pria kelahiran 1985 ini merupakan pendiri Rumah Asuh Assahi Kota Batam, yang berada di Tanjung Uma, tepatnya depan lapangan bola di SDN 001 dan SDN 004. Di usianya yang ke-28 saat ini, pria yang besar di Kampung Tanjung Uma ini mengaku membutuhkan sokongan dana untuk menyambung hidup anak asuhnya yang berjumlah 40 orang.


Tekadnya membina anak-anak ini karena tidak ingin generasi muda khususnya di wilayah Tanjung Uma menjadi kecanduan narkotika dan sejenisnya. Dengan penghasilannya sebagai cleaning service dengan status honorer di Kantor Pemuda dan Olah Raga Kota Batam sebesar Rp2.020.000 (UMK), ia menyekolahkan puluhan anak dari tingkat SMP hingga SMA sederajat. 

Awal mulanya, menurut  anak dari pasangan Muhamad Yusuf dan Nur Huda ini, sejak empat tahun lalu dirinya diminta oleh anak-anak di Tanjung Uma untuk menjadi manajer sepak bola bernama Klub Asaahi FC. Namun tawaran tersebut tidak langsung diterima. Ia mengajukan syarat jika sudah menjadi manajer bola anak-anak di Tanjung Uma. 

"Syarat yang saja ajukan mudah. Saya katakan, jika saya menjadi manajer sepak bola kalian, apakah kalian sanggup berhenti dari mabuk ngelem, miras bahkan narkitika? Pada saat itu, seluruh anak-anak menyetujuinya. Langsung dengan uang tabungan yang ada, saya gunakan semua untuk membeli kostum sepak bola demi komitmen tidak akan mabuk kembali," ujarnya yang diaminkan puluhan anak asuhnya, Senin (23/07/2013). 

Prestasi klub binaan ini pun mencuata. Klub sepakbola  Assahi FC menyandang juara III se-Kota Batam dalam turnamen SMK 1 pada 2011 lalu. Namun, tiga tahun berlalu hingga saat ini klub sepakbola yang dibinanya vakum jika ada turnamen diadakan yang jaraknya jauh dari Tanjung Uma dengan alasan keterbatasan dana.

"Lebih baik dana yang saya peroleh sendiri dari hasil kerja saya saya gunakan untuk kebutuhan sekolah anak asuh dan biaya makan sehari-hari meskipun harus ngutang di warung depan," katanya. 

Tentu saja beban berat bagi lajang satu ini untuk membiayai puluhan anak yatim, piatu dan warga tidak mampu. Bahkan untuk menampung agar anak-anak ini dalam pengawasannya sehari-hari, dia terpaksa menyewa tempat singgah Rumah Asuh Assahi Kota Batam, sebesar Rp500 ribu per bulan dengan ukuran seadanya. Dengan Rp500 ribu yang dikeluarkannya untuk tempat singgah tersebut, ia juga harus mengeluarkan dana iuran listrik dan air bersih setiap bulan. 

"Setiap bulan gali lubang tutup lubang aja. Bahkan sampai dengan saat ini uang sewa rumah masih nunggak selama 3 bulan. Untung  pemilik rumah mengerti dengan keadaaan anak-anak ini," terangnya. 

Namun di balik sulitnya memperoleh bantuan, dia masih merasa bersukur karena anak-anak asuhnya sudah tidak lagi mengkomsusmsi lem, miras dan barang memabukkan lainnya.

"Jika kedapatan masih menggunakan barang haram tersebut, maka tidak akan segan-segan saya usir dari rumah ini karena sudah komitmen bersama. Ngapain masih di sini jika sudah tidak mau lagi dibina," tegasnya. 

Selain itu, dia mengaku belum sempat mendaftarkan Rumah Asuh Assahi Kota Batam ke pemerintah kaibat persoalan dana yang minim. Bahkan, selama empat tahun besama anak-anak ini, tidak sedikit pula cemooh pihak keluarga dan warga sekitar kepadanya. Namun dengan tekad yang sudah bulat, rumah asuhnya tetap berjalan sampai dengan saat ini meski hidup dalam kesulitan, makan seadanya, bahkan harus menerima tetesan air hujan. 

"Awalnya, orang banyak yang mengatakan saya gila karena buang-buang waktu muda saya bersama anak-anak ini. Ada juga yang mengatakan saya memanfaatkan anak-anak ini. Mereka tahu apa, hanya pandai melihat dan menilai, tetapi mereka tidak pernah lakukan apa yang saya lakukan. Dengan gaji yang saya terima saya gunakan semuanya di sini. Coba, apa yang saya manfaatkan sama anak-anak ini," ujarnya sembari mengatakan telah mendapat ridho dari kedua orang tuanya. 

Bahkan, untuk mendapat penghasilan tambahan biaya sekolah dan makan sehari-hari, sebagian anak-anak bekerja sebagai tukang bersih-bersih ketika ada acara di lapangan bola atau di Tanjung Uma. Ada juga yang menjadi pemulung, kerja serabutan memasukkan tali ke dalam kantung, hingga mencuci motor di sebelah rumah kontrakannya.

"Saya tidak munafik. Saat ini membutuhkan uluran tangan masyarakat luas," ujar Ahmad. 

Dengan uang itu nantinya iya akan membuat usaha kecil-kecilan untuk menafkahi anak-anak asuhnya hingga menambah dana pendidikan. Karena tidak semua anak asuhnya bersekolah di sekolah negeri. Keterbatasan nilai membuat sebagian anak-anak asuhnya masuk sekolah swasta. 

"Saya tidak ingin mengemis dengan menghidupi anak-anak ini. Tetapi saya lebih ingin membangun usaha kecil-kecilan. Dengan begitu anak-anak ini sendiri mendapat hasil dari jerih payah dengan berjualan bersama-sama. Tapi kalau kita selalu meminta-minta maka selamanya akan seperti itu. Itulah yang tidak saya inginkan," tegasnya. 

Ahmad pun menitipkan nomor selulernya, 081364910664. Bagi warga luar yang ingin bersama membangun atau peduli dengan nasib-nasib anak ini bisa langsung menghubungi nomor tersebut. (*)

Editor: Dodo