Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Tragedi Sepakbola Indonesia
Oleh : opn/dd
Sabtu | 08-12-2012 | 12:13 WIB

Oleh: Nurhaida Alting


WAJAH SEPAKBOLA Indonesia sepekan ini dipayungi oleh awan gelap. Ketika Timnas Indonesia yang hanya membutuhkan hasil imbang gagal menembus semi final piala AFF Suzuki Cup 2012, sah-sah saja bila sebagian masyarakat menyebutnya sebagai petaka. Kemenangan yang seolah sudah nampak dipelupuk mata, lepas begitu saja. Euforia, kepercayaan diri berlebih dan longgarnya peraturan yang dibuat oleh manajemen Timnas terhadap pemain, dituding sebagai salah satu penyebab kegagalan.


Sepertinya harapan publik yang begitu besar terhadap prestasi Timnas masih jauh, mengingat dalam tubuh PSSI terus saja didera konflik dan kisruh yang tak berujung. Carut marut dualisme kepengurusan dalam organisasi PSSI yang berimbas munculnya dualisme kompetisi, kemudian diikuti dualisme klub dan berujung pada lahirnya dualisme Timnas. Beragam masalah yang timbul dari banyaknya dualisme tersebut, tentunya menguras banyak waktu dan energi para elit pengurusnya.

Sejatinya, kalah dan menang dalam sebuah pertandingan olah raga adalah hal biasa. Tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa nirgelar sepakbola Indonesia sampai saat ini tidak terlepas dari buruknya kinerja PSSI yang terus direcoki masalah yang tak ada habisnya. Walaupun kekalahan itu terasa menyesakkan dan menjadi petaka bagi PSSI, itu bukanlah tragedi.  

Tetapi, kematian tragis yang mengenaskan lagi menyesakkan dari pesepakbola asing asal Paraguay, Diego Mendieta, yang tercatat pernah merumput di liga profesional negeri ini telah menggetarkan jiwa kemanusiaan kita. Betapa tidak, Diego yang berpulang di usia 32 tahun setelah terbaring beberapa hari di rumah sakit, nasibnya  ternyata begitu memilukan. Menjelang kepergiannya, ia harus mengalami beban himpitan ekonomi akibat pihak klub yang dibelanya tak kunjung membayarkan gajinya.

Bahkan sampai Diego terkapar di rumah sakit pun, pengurus klub tidak peduli. Apalagi mengurusnya. Adalah Pasoepati, suporter Persis Solo, yang berinisiatif menggalang dana melalui aksi peduli Diego pada saat acara nonton bareng laga Timnas di ajang piala AFF sepekan lalu.

Selain faktor klinis, menurunnya daya tahan Diego juga dikarenakan faktor psikologis. Almarhum pernah mengeluh kepada tim medis rumah sakit, kalau dirinya di Solo tak memiliki kerabat dan ingin segera pulang. Ia sangat kesepian. Istri dan ketiga anaknya berada di Paraguay. Sebelum meninggal pada 4 Desember lalu, Diego mengirimkan pesan terakhirnya lewat ponsel yang dikirimkan kepada teman-temannya.

"Tak minta gaji full
Saya
Cuma minta tiket pesawat
Biar bisa pulang
Ketemu MAMA
Dan
Mati di negara saya"

Hati siapakah yang tidak pilu dan ngilu mendengar jeritan suara hati yang menyayat dari seorang perantau yang terbaring sakit di sebuah negeri, yang konon penduduknya ramah dan peduli pada sesama. Kisah pedih Diego tentunya sama pedihnya dengan sebagian buruh migran atau pahlawan devisa kita yang terlunta-lunta, mendapat perlakuan tidak senonoh bahkan seperti Diego sampai harus meregang nyawa di negeri orang.

Islam melarang menunda-nunda pembayaran gaji orang yang bekerja pada kita. Dalam hadis Nabi dikatakan: "Bayarlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya dan beritahukanlah berapa upahnya, ketika dia masih bekerja." (HR. Baihaqi).

Ya, kita telah mendzalimi Diego. Padahal kita telah memakai tenaganya. Keringatnya sudah mengering, basah lagi sampai kering lagi dan akhirnya tak akan pernah berkeringat lagi, barulah gajinya dilunasi. Ternyata, walaupun berlabel 'profesional’ nasib tragis Diego layaknya buruh migran Indonesia yang tertipu dan dilecehkan di negeri orang. Ternyata sepakbola Indonesia belum siap menjadi profesional. Sungguh memalukan.

Sebelum menutup mata, Diego juga sempat menggoreskan catatan terakhirnya untuk Tuhan. Catatan itu ditemukan di dalam kamar kosnya. Dalam selember kertas itu Diego mengucap syukur pada Tuhan dan berharap Tuhan bermurah hati mengampuni dosa-dosanya. Di sana juga tertulis betapa ia mencintai keluarga, istri dan ketiga anaknya. Selamat jalan Diego.......

Peristiwa kematian sejatinya memunculkan sebuah kesadaran. Betapa kita tidak pernah tahu, kapan, di mana dan bagaimana maut menjemput. Terkait kematian Diego juga dapat dilihat sebagai potret buram buruknya kepengurusan sepakbola di Indonesia. Tragedi ini sudah seharusnya menjadi pukulan telak bagi elit pengurus sepakbola negeri ini yang tak henti-hentinya bertikai. Semoga peristiwa tragis ini membuka mata dan hati para penggede yang mengurusi sepakbola untuk sepakat mengakhiri konflik. 

Seperti harapan Menpora, kitapun berharap pada tanggal 10 Desember 2012 nanti, pertikaian dan kisruh sepakbola nasional bisa terselesaikan melalui kongres bersama antara PSSI dan KPSI. Kedua pihak telah sepakat berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarkan Indonesia dari sanksi FIFA. Semoga Kongres Luar Biasa yang rencananya akan dihelat di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangkaraya, nanti akan berjalan lancar sesuai kesepakatan segi tiga yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menpora, PSSI dan KPSI.

Namun, bila kedua kubu kembali gagal keluar dari konflik, maka bersiap-siaplah menunggu jatuhnya sanksi dari FIFA. Kita semua tentu tidak menginginkan hal itu terjadi. Oleh karena itu dibutuhkan sikap dewasa, legowo dan menanggalkan kepentingan lain selain sepakbola dari kedua kubu.  

Layak untuk disimak bagaimanakah nasib sepakbola Indonesia kita ke depan. Bila akhirnya sanksi itu harus jatuh, toh dunia belum tentu akan kiamat. Tetapi bagi sebagian pecinta sepakbola tentu akan menganggapnya sebagai tragedi, sementara sebagiannya lagi berharap akan menjadi awal bagi terbentuknya kepengurusan baru yang diharapkan tidak terkontaminasi oleh berbagai kepentingan di luar sepakbola.   

Penulis saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis (GKGM).