PKP

Kemenristekdikti Tetapkan Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045
Oleh : Redaksi
Sabtu | 15-09-2018 | 11:04 WIB
menteri-nasir-RIRN.jpg honda-batam
Menristekdikti, Mohamad Nasir. (Kemenristekdikti/ADN)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah menetapkan Rencana Induk Riset nasional (RIRN) Tahun 2017-2045. RIRN ini untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menristekdikti Mohamad Nasir pada pembukaan Forum Riset Life Science Nasional (FRLSN) di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, belum lama ini.

Menristekdikti mengungkapkan RIRN menjadi penting karena pembangunan nasional membutuhkan perencanaan dari setiap bidang untuk mengintegrasikan langkah-langkah yang terpadu dan terintegrasi, khususnya antar Kementerian/Lembaga, untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya.

Menristekdikti mengungkapkan ada 10 bidang strategis yang menjadi perhatian pemerintah, yakni: Energi - Energi Baru dan Terbarukan; Kebencanaan; Kemaritiman; Kesehatan - Obat; Material Maju; Pangan - Pertanian; Pertahanan dan Keamanan; Sosial Humaniora - Seni Budaya - Pendidikan; Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK); dan Transportasi.

"Kami telah mengajukan membuat roadmap riset ke depan kepada Presiden Jokowi, yang dinamai Rencana Induk Riset Nasional (RIRN)/National Masterplan Research. Dari 10 bidang ini salah satunya adalah bidang kesehatan dan obat-obatan. Kami berharap Forum Riset Life Science Nasional (FRLSN) dapat berjalan secara berkelanjutan guna mendukung program pemerintah tersebut," ucap M Nasir, mengutip siaran perka Kemenristekdikti.

Direktur Utama PT Bio Farma Rahman Roestan mengapresiasi dukungan perhatian pemerintah kepada Forum Riset Life Science Nasional (FRLSN). Dia mengajak peneliti untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak guna menciptakan kemandirian farmasi nasional sebagai bentuk kontribusi untuk Indonesia.

"Kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah, yakni Kemenristekdikti, KemenBUMN, Kemenkeu, Kemenkes dan Bappenas. Kami berharap terjadi penguatan sinergi dari berbagai elemen seperti akademisi, pelaku industri, pemerintah, community dan media, yang lebih intensif lebih cepat mendorong hilirisasi hasil riset life science, dan mendorong strategi kolaborasi riset menginput beragam pemikiran, dan terobosan,” ucapnya.

Pada kesempatan ini juga dilaksanakan launching prototype Kit HBsAg dan anti HBsAg untuk mendeteksi keberhasilan imunisasi hepatitis b.

Rahman Roestan berharap forum nasional ini dapat menginspirasi forum-forum internasional lainnya, seiring ditunjuknya Indonesia sebagai Centre of Excellence (CoE) The Organization Of Islamic Cooperation (OIC) atau Pusat Riset Vaksin Organisasi Kerja sama Islam (OKI).

Turut hadir Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Siswanto, Jajaran Dewan Komisaris PT Biofarma, serta tamu undangan lainnya.

Editor: Gokli