Radikalisme bukan Produk Ajaran Agama, tapi Emosi Individual
Oleh : Nando Sirait
Selasa | 15-05-2018 | 14:04 WIB
Sos_4_pilar_Hidayatullah_2.jpg honda-batam
Senator Muhammad Nabil saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar di Aula Rektorat STIA Hidayatullah Batam

BATAMTODAY.COM, Batam - Senator Muhammad Nabil menegaskan, radikalisme bukanlah produk ajaran dari sebuah agama, melainkan emosi individual didasarkan pada interpretasi keagamaan yang salah. Menangkal radikalisme dibutuhkan pemahaman yang benar terhadap ajaran agama.

"Radikalisme bukanlah produk ajaran dari sebuah agama, melainkan emosi individual didasarkan pada interpretasi keagamaan yang salah," kata Nabil saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar di Aula Rektorat STIA Hidayatullah Batam pada 20 April 2018 lalu.

Menurut Nabil, peningkatan pendidikan dan pendalaman terhadap ajaran Islam merupakan solusi terbaik yang perlu terus dikembangkan. Karena dengan pemahaman agama yang benar maka akan menghindarkan umat dari perilaku-perilaku negatif dan pemahaman ajaran agama yang menyesatkan.

Dalam beberapa kasus,ideologi juga tak selalu menjadi penyebab utama munculnya perbuatan radikal. Karenanya, tak jarang, ternyata malah faktor ekonomi-lah yang menjadi alasan terkuat. metode perekrutan yang dilakukan ISIS (Islamic State of Irak and Suriah) yang ternyata sangat radikal dan aksinya berhasil menggemparkan seluruh dunia.

"Untuk merekrut anggota dari Indonesia, selain mengatasnamakan panji-panji islam, jaringan ISIS juga sengaja menjanjikan iming-iming gaji sebesar Rp16 juta per orang," katanya.

Meski demikian, diakui jika saat ini paham radikalisme memang tidak terlalu berkembang di Kepri, meskipun beberapa waktu ada teroris yang ditangkap di Batam. Namun, dia mengajak seluruh masyarakat dan pihak terkait untuk terus waspada, karena masih ada kemungkinan upaya penyebaran paham teroris dan radikal yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Gusur kepribadian
Pada kesempatan itu, Nabil mengatakan, saat ini bangsa Indonesia tengah diserang arus gencar westeranisasi dalam kehidupan sosial, sehingga menyebabkan banyaknya perubahan dalam tataran budaya dan kehidupan di Indonesia.

Westernisasi itu, kata Nabil adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, budaya, dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan sehari-hari bangsa-bangsa dengan gaya Barat.

Dengan banyak cara, westernisasi menggusur kepribadian suatu bangsa yang merdeka dan memiliki karakteristik yang unik. Kemudian bangsa tersebut dijadikan boneka yang meniru secara total peradaban Barat. Beberapa akibat yang sudah mulai dirasakan antara lain gaya hidup, cara berpakaian, pergaulan remaja dan genarasi muda, lunturnya nilai budaya daerah di Indonesia.

Gaya hidup orang sekarang yang lebih mementingkan gengsi dan kepraktisan tanpa mengetahui dampak buruk yang akan dirasakan selanjutnya seperti lebih suka memilih makanan cepat saji, padahal menyebabkan banyak penyakit seperti kencing manis dan lain-lain.

Kemudian cara berpakaian seprti thank top yang diluar negeri digunakan pada musim panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya di depan umum. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia latah terhadap perubahan. Mereka menganggap pakaian produksi negara Barat tersebut sesuai dengan budaya Timur yang dianut oleh bangsa kita Indonesia.

Sementara pergaulan remaja dan gerenerasi muda saat ini sudah banyak yang mengarah pada hal-hal negatif lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS akibat pergaulan bebas. Padahal mereka adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik.

Sedangkan lunturnya nilai luhur budaya daerah di Indonesia, karena generasi milleneal lebih menggandrungi trend budaya Barat. Padahal Indonesia memilki beraneka ragam seni dan budaya dari Sabang sampai Merauke seperti halnya tarian, lagu, baju adat dan bahasa daerah. Akan tetapi dengan berkembangnya jaman, budaya tradisi daerah yang mulai luntur nilai dan makna.

Editor: Surya