Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ini 7 Kunci agar Udara di Dalam Rumah Tetap Segar
Oleh : Redaksi
Sabtu | 12-05-2018 | 09:40 WIB
bersihkan-rumah.jpg Honda-Batam
Ilustrasi pria membereskan atau membersihkan rumah. shutterstock.com

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sebagian masyarakat perkotaan tidak menyadari sehari-hari menghabiskan waktu hingga 90 persen dari waktunya berada di dalam rumah dengan polutan yang sama berbahayanya dengan di luar ruangan.

Praktisi kedokteran anti aging, Haekal Anshari, mengatakan, kualitas udara yang kurang baik menjadi sumber radikal bebas yang dapat mempercepat penuaan dan kematian sel.

"Kondisi itu akan mengakibatkan penurunan sistem kekebalan dan proses degeneratif sel-sel dan jaringan," ujarnya, baru-baru ini.

Karena itu terdapat tujuh hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah. Upaya pertama adalah menggunakan tanaman hias. Selain sebagai dekorasi yang mempercantik ruangan, tanaman hias juga dapat membantu meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan.

Ada beberapa jenis tanaman yang cocok ditempatkan dalam ruangan sekaligus berperan sebagai biofilter yang dapat menyerap polusi udara serta tidak membutuhkan banyak sinar matahari agar lebih tahan lama. Seperti tanaman hias laba-laba, lidah mertua, dracaena dan lidah buaya.

Kemudian membuka jendela agar udara dan sinar matahari masuk. Cara ini memang sederhana namun sangat bermanfaat bagi kesehatan dan sirkulasi udara. Bukalah jendela rumah anda pada pukul 8 sampai 10 pagi agar udara dalam ruangan dapat bersirkulasi secara alami.

"Masuknya sinar matahari kedalam ruangan dapat membantu menghilangkan jamur serta membunuh bakteri dan virus."

Upaya berikutnya yakni mengurangi penggunaan lampu pijar. Lampu pijar mengonversi sekitar 90% dari total energi menjadi panas saat memancar. Hal tersebut secara tidak langsung mempengaruhi kualitas udara menjadi pengap.

Pengurangan penggunaan lampu pijar akan meminimalisir suhu udara tidak sehat dan suhu ruangan menjadi lebih normal dan nyaman serta tentunya, dapat menurunkan tagihan listrik Anda.

Selanjutnya, menggunakan produk pembersih ruangan alami. Hal itu karena pembersih ruangan berbahan kimia dapat menciptakan polusi ringan dalam bentuk Volatile Organic Compounds (VOC) atau senyawa organik yang mudah menguap.

Tak jarang hal ini dapat menyebabkan iritasi kulit bahkan sampai menyebabkan gangguan paru-paru. Sebagai alternatif, banyak bahan dapur dapat digunakan sebagai pembersih.

Seperti cuka putih untuk membersihkan lantai, garam yang dapat meluruhkan minyak dan Iemak dari oven, lemon untuk membersihkan permukaan perabotan serta baking soda yang dikenal ampuh membersihkan noda pada pakaian.

Dokter Haekal juga mengatakan menyalakan exhaust saat memasak juga menjadi salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah.

Selain mengeluarkan karbon monoksida yang dihasilkan dari kegiatan memasak, senyawa kimia yang dihasilkan dari peralatan dan bahan memasak juga dapat disaring dan dikeluarkankan dari rumah serta mengurangi endapan asap jenuh di dapur.

Mengurangi penggunaan karpet pun merupakan salah satunya. Beberapa jenis karpet dapat dengan mudah menyerap senyawa organik yang bersifat racun dan sangat berbahaya bagi lingkungan karena mengandung bahan kimia yang disebut fluorinated (PFASs).

Di samping itu, karpet juga bisa menyimpan debu, kotoran dan bakteri yang tidak baik untuk kesehatan. Namun jika masih menggunakan karpet, jangan lupa untuk memvakumnya paling tidak seminggu sekali.

Upaya ketujuh yang dapat dilakukan adalah menggunakan teknologi filtrasi udara. Kemajuan teknologi sekarang ini memungkinkan pemilik rumah memiliki filtrasi udara di dalam ruangan.

Selain menjaga kesehatan, teknologi filtrasi ini juga dapat menghasilkan suhu ruangan stabil, mencegah jamur dan kondensasi dan mengurangi bau apek saat rumah tidak ditempati dalam waktu tertentu. Teknologi filtrasi juga bisa mengatur tingkat kelembaban hingga 55 persen yang relatif nyaman serta mengurangi konsumsi listrik.

Sumber: Tempo.co
Editor: Udin