PKP

Kisah Bripka Pirngadi Bertugas di Bawah Bendera PBB
Oleh : Romi Candra
Jumat | 16-03-2018 | 18:02 WIB
pirnagi-pbb.jpg honda-batam
Bripka Pirngadi saat bertugas di bawah bendera PBB. (Foto: Ist)

BUATLAH orangtua bangga, kemudian berjuang untuk Indonesia. Spirit itulah yang melecut Bripka Pirngadi, mantan anggota Lantas Polresta Berelang, menyambut tugas menjaga perdamaian dunia di bawah bendera PBB. Bagaimana kisahnya? Berikut penuturannya kepada wartawan BATAMTODAY.COM, Romi Candra.

Rasa bangga membuncah, menyesaki rongga dada Bripka Pirngadi, kala sebuah surat telegram dari Mabes Polri menyebut namanya, Januari 2017 lalu. Isi telegram itu, perintah untuk pria yang ramah itu bersama dengan dua orang anggota Satbrimob Polda Kepri. Apalagi, perintah itu bukan sembarang tugas, bukan pula tugas di dalam negeri. Tapi tugas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjaga perdamaian dunia!

"Prinsip saya, orang lain bisa kenapa saya tidak. Dengan kata lain, kita sebagai manusia jangan mudah putus asa untuk menggapai apa yang diimpikan. Percaya akan kemampuan diri sendiri, terutama untuk generasi muda," tuturnya dalam perbincangan hangat, Kamis (15/3/2018) lalu.

Sebagai pribadi, penugasan itu bukan hanya merupakan kebanggaan bagi dirinya dan keluarga, tapi juga keluarga besar Polresta Barelang. Apa sebab? Sebab, Pirngadi sendirilah yang terpilih dari Polresta Barelang. Entah apa pula sebabnya.

Yang jelas, untuk menjalankan tugas menjaga perdamaian di Sudan, Timur Tengah, pria yang sekarang bertugas sebagai penyidik
pada Unit IV Jatanras Satreskrim Polresta Barelang itu, harus menjalani serangkaian proses dan tes.

"Sebelum ditugaskan ke Sudan, saya anggota Satlantas Polresta Barelang. Keinginan untuk ikut tes, datang dari diri sendiri, bukan penugasan dari pimpinan," ungkapnya,

Dari Polda Kepri, ada tiga orang yang diberangkatkan. Namun, dua lainnya berasal dari Satbrimob Poldak Kepri yang notabenenya memang bertugas pada satuan khusus.

"Ini adalah kebanggan tersendiri untuk saya karena bisa bertugas di negara konflik serta melihat sendiri bagaimana kondisi disana," kenangnya.

Diceritakan, saat TR dari Mabes Polri turun untuk dilakukan seleksi, ia langsung memantapkan hati untuk ikut bersaing. Saat itu, ada sekitar 40 personil dari Polresta Barelang, Polda Kepri, dan Satbrimob yang mengikuti tes dan memperebutkan 3 kuota untuk berangkat.

"Ada sekitar 40 orang yang ikut tes di Polda, kemudian lanjut tes di Mabes Polri. Namun yang terpilih hany tiga orang," aku Pirngadi mengingat seleksi yang diikutinya.

Terpilihnya ia, tidak didapatkan dengan mudah. Namun banyak rintangan tan haru melewati berbagai tes yang tidak banyak yang jisa melewatinya, seperti pengujian psikotes, jasmani, kesehatan, dan bahasa, serta tes lainnya.

"Alhamdulillah saya bisa melewatinya. Begitu lulus, kami di harus dilatih terlebih dahulu di Jakarta, atau diberi nama Pra Operasi selama tiga bulan. Setelah itu, kami diberangkatkan dan ditugaskan sekitar 1,3 tahun," lanjut Pirngadi.

Untuk berangkat ke sana, ia juga harus menempuh perjalanan jauh. Dari Indonesia, harus terbang terlebih dahulu ke Saudi Arabia dengan perjalan 8 jam. Kemudian dilanjutkan lagi ke Alfaser, Ibukota Sudan dengan waktu 3 jam.

"Kami berangkat menggunankan pesawat. Dari Alfaser menuju daerah Kortum, daerah konlik dan Camp kepolisian Indonesia naik Helikopter dan menempuh perjalanan 2 jam," sebut Pirngadi.

Selama di Negeri Sudan, banyak hal yang ia rasakan. Mulai dari harus menghadapi musim tidak hanya panas dan hujan, juga ditambah dengan musim badai pasir, hingga melihat sendiri bagaimana kondisi para pengungsi yang menjadi korban perang.

"Kepolisian Indonesia ditugaskan untuk membantu pengunsi dan menjaga pekerja dibawah naungan PBB. Kalau kita melihat para pengungsi, kehidupannya sangat sedih. Jika kita bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk malam hari, mereka hanya beralaskan tikar, dan tidurnya juga tidak nyenyak," ingatnya.

Dengan kata lain, akibat dari peperangan, kondisi rakyat dibaluki kemiskinan. Hidup seadanya dan harus berpindah-pindah agar aman.

"Kita sekarang ini patut bersyukur karena sudah tinggal di negara yang damai. Kita harus bisa mempertahankan dan bahkan menciptakan rasa damai di negeri kita. Sangat tidak enak jika kita hidup dalam masa peperangan," tambahnya.

Namun, sebagai orang Indonesia yang memang memiliki jiwa ramah, membuat kepolisian Indonesia disenangi masyarakat di negeri Timur Tengah itu.

"Mereka sangat senang dengan kita. Sebab, saat merayakan hari kemerdekaan pada 17 Agustus, kita mengadakan perlombaan dan pesertanya masyarakat disana. Bahkan saat lebaran kita juga membagikan bantuan untuk mereka, sehingga mereka mau berbaur tanpa rasa takut dengan kita," kenangnya bangga.

Editor: Dardani