Impunitas Elites dalam Patrimonialisme
Oleh : Redaksi
Kamis | 15-02-2018 | 17:26 WIB
Kombes-Andry-Wibowo.jpg honda-batam
Kombes Polisi Andry Wibowo. (Foto: Ist)

Oleh Kombes Polisi Andry Wibowo

SEJARAH perkembangan bangsa tidak terlepas dariri problem kedudukan elites secara pribadi mauupun kelompok. Nilai-nilai Patrimonial tumbuh sebagai akar kekuasaan dalam tradisi kekuasaan di Negara Indonesia. Nilai Nilai-nilai Patrimonialisme juga tumbuh dalam sejarah kekuasaan bangsa bangsa di dunia.

Monarchi, Khilafah, Gereja Centris, Militerisme , Fascisme adalah wujud Patrimonialisme yang pernah ada dalam sejarah politik kekuasaan di berbagai belahan dunia.

Ciri khas patrimonialisme yangng menjadi problem adalah lahirnya penngkultusan kepada individu, kelompok bahkan nilai Nilai-nilai yang menjadi dogma dalam Institusi Patrimonial.

Pengkultusan yang melahirkan dominasi dan hegemoni dalam tatanan idea maupun praksis kehidupan.

Implikasi paling dirasakan adalah lahirnya cara pandang dan praksis Absolutisme (Totalitarianisme) dan cenderung berfikir pintas untuk mencapai tujuan.

Kesalahan menjadi tabu diarahkan kepada individu atau kelompok ini. Nalar kehidupan menjadi sangat rendah. Rasionalitas yang didesain hanya dibangun berdasarkan kepentingan individu dan kelompoknya.

Konsesus bersama tidak berlaku atau sebatas pada konsep-konsep simbolik yang jauh dari hakiki operasional.
Egoisme, Partikularisme, menjadi kultur dan ciri berfikir maupun tata laku.

Simpatisan menjadi sumber massa (crowds) yang efektif digunakan untuk melawan atau menindas para penentang atau para pembeda.

Uang, kekuasaan, wanita (nyata maupun imajener) menjadi penggoda paling dahsyat untuk individu dan kelompok yang mau berKompromi dengan gerakan dan agenda undividu/jelompok pengusung gagasan patrimonial.

Bagi mereka yang tidak mau berkompromi dengan Hal tersebut ketakutan dan kecemasan dibangun dimana-mana. Realitanya bagi individu dan kelompok ini hukum tidak sama bagi diri mereka dan publik umumnya.

Saling melindungi diantara mereka atas nama inklusivitas individu dan kelompok menjadi pemandangan biasa. Elitisme menjadi miliki bersama baik tuannya maupun pengikutnya.

Jika individu dan Kelompok ini beserta nilai-nilai Elitisme dibiarkan tumbuh subur, hutan harmoni Kehidupan tinggal nenunggu waktu untuk punah.

Impunitas elites seperti ini jangan dibiarkan karena bangsa ini dibangun dengan konsep egaliter dan yang termaktub dalam Konstitusi dan Pancasila.*

Penulis perwira menengah di Bareskrim Mabes Polri