Menjaga Toleransi Pasca Kekerasan Terhadap Pemuka Agama
Oleh : Redaksi
Kamis | 15-02-2018 | 11:26 WIB
ilustrasi-kekerasan1.jpg honda-batam
ilustrasi kekerasan. (Foto: Ist)

Oleh Sulaiman Rahmat

PADA akhir Januari 2018 kemarin, masyarakat dihebohkan dengan kabar ulama diserang orang tak dikenal. Setelah ditelusuri, terungkap bahwa pelaku memiliki gangguan jiwa. Belum selesai kasus itu, muncul kembali berita yang datang dari Yogyakarta.

 

Para jemaat gereja dikejutkan dengan orang yang membawa senjata tajam menyerang beberapa orang di gereja. Sasaran utamanya adalah pastor Karl-Edmund Prier SJ.

Melihat berita yang berulang dan seperti disengaja tersebut banyak mengundang komentar publik. Apalagi di masa sekarang dimana berita sangat cepat menyebar. Ada banyak orang yang merasa resah dan kemudian mulai berpikir negatif.
Fenomena ini memang cukup meresahkan, karena tidak hanya dua kasus saja melainkan berulang di tempat lain.

Tak hanya masyarakat biasa, para tokoh politik pun ikut berpendapat akan masalah ini. Seperti halnya pendapat ketua DPR Bambang Soesatyo bahwa peristiwa ini perlu diperhatika dengan seksama. TNI serta BIN atau Badan Intelijen Negara diminta untuk mengusut permasalahan ini.

Sementara Kapolri sendiri sebagai salah satu instansi pengaman masyarakat meminta masyarakat agar tidak teralalu khawatir menaggapi permasalahan itu. Masyarakat diminta tetap tenang.

Kapolri Jendral HM Tito Karnavian mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi satu bulan ini, yakni kasus penyerangan dua ulama di Jawa Barat murni karena tindakan kriminal yang disebabkan karena pelaku sedang mengalami gangguan jiwa. Kasus tersebut juga tidak ada hubungannya dengan peristiwa di Yogyakarta. Kasus-kasus tersebut sudah ditangani dengan baik oleh pihak berwajib.

Mengenai kasus yang terjadi di Yogyakarta, anggota polisi telah bekerja denga baik dengan langsung mendatangi tempat kejadian perkara dan berhasil mengamankan pelaku meski harus tepaksa menembaknya pada bagian kaki.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa peristiwa itu sudah tersebar luas dan menjadi persoalan nasional. Karena persoalan itu, banyak juga yang jadi saling curiga antar pemeluk agama. Terlebih orang-orang yang sudah akrab dengan sosial media, banyak yang saling berkomentar di bawah konten berita. Tak dapat dihindari bahwa komentar-komentar tersebut bisa menjadi perpecahan jika saling berseberangan. Pada akhirnya peristiwa ini rentan sekali memicu konflik bernuansa SARA.

Sebenarnya perisiwa ini bukan lah sesuatu yan perlu diperbesar jika hanya akan semakin menimbulkan perpecahan atau bahkan permusuhan. Tentunya yang lebih berduka sebenarnya adalah keluarga korban, bukan seseorang yang justru memprovokasi dan menyangkut pautkan dengan SARA. Sebagai masyarakat awam, sebaiknya kita ikuti saja proses hukum yang berlaku.

Mengiringi kasus-kasus tersebut, juga sudah banyak sekali konten-konten hoax yang tersebar luas. Ada juga seseorang yang berpendapat bahwa perstiwa tersebut didalangi oleh lembaga atau instansi yang ingin memperkeruh suasana politik. Terlebih sebentar lagi akan ada Pilkada yang acap kali membuat banyak pihak terlibat dalam suasana politik yang panas. Bahkan tuduhan tersebut secara diberikan terbuka kepada Badan Intelijen Negara.

Tentunya tuduhan itu tidak berdasar, serta tidak adanya bukti yang mengarah peristiwa itu didalangi oleh intansi intelijen. Justru adanya peristiwa tersebut membuat lembaga pemerintah bahu-membahu untuk turut menyelesaikan persoalan yang meresahkan masyarakat.

Sangat disayangkan pendapat itu dilontarkan oleh seseorang yang mengatakan sebagai pengamat intelejen. Di tengah suasana hati masyarakat sedang kalang-kabut bingung untuk mempercayai pihak mana, berita hoax atau pun pendapat yang bersifat subjektif tersebut juga bisa mempengaruhi pikiran rakyat. Suasana yang panas ini jika dibiarkan bisa berakibat semakin tingginya jurang perpecahan antar pemeluk agama.

Menanggapi hal tersebut, presiden Joko Widodo mengundang para pemuka agama ke Istana negara. Presiden Jokowi berpidato bahwa Indonesia disanjung oleh negara lain karena persatuan dan kesatuannya yang kokoh. Indonesia sebagai negara majemuk, negara yang memiliki banyak perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan, tapi memiliki toleransi yang tinggi sehingga mampu menjaga persatuan. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran para pemuka agama yang mengajarkan kepada masyarakat agar mengedepankan toleransi dalam berinteraksi kepada sesama. Sikap itulah yang menjadikan Indonesia tetap rukun dan damai meski berbeda suku, ras, agama, dan juga golongan.

Sebab itu lah kejadian kemarin tentang pihak-pihak yang menyerang pemuka agama, sebaiknya tidak lantas membuat kita menjadi saling curiga. Justru momentum itu seharusnya menjadikan kita saling bersatu. Buktikan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berpendidikan sehingga tidak mudah terprovokasi. Jika memang ada permasalahan, mari saling bermusyawarah untuk mencari jalan keluar. Agar Indonesia semakin solid, kokoh, dan tidak mudah terpecah belah.

Selain diharapkan agar kita saling berpikir positif kepada sesama rakyat Indonesia, kita juga perlu percaya kepada kinerja pemerintah. Penguasa yang kita pilih sekarang tentunya sedang berusaha menyelesaikan permasalahan yang terjadi. POLRI, TNI, dan Badan Intelijen Negara tentunya sudah bekerja semaksimal mungkin agar kasus ini cepat terselesaikan. Tapi, memang ada kode etik di dalam pekerjaan mereka. Hasilnya tentunya tidak bisa diungkapkan secara terbuka kepada rakyat.

Meski begitu, bukan berarti pihak keamanan negara tidak bekerja maksimal dalam menangani kasus ini. Dibandingkan dengan mempertanyakan hasil pekerjaan mereka, lebih kita beri dukungan penuh agar kasus ini bisa segera terselesaikan. Percayakan hal ini kepada pihak yang berwajib. Sebagai rakyat, kita hanya bisa ikut memantau jalannya peradilan.

Sikap positif sebagai rakyat perlu kita jaga. Di tengah situasi yang saat ini sedang tidak aman, kita justru membutuhkan kekompakan yang lebih dari sebelumnya. Kerukunan, persatuan, serta kesatuan perlu dijaga agar bisa mengembalikan situasi menjadi damai dan terkendali.

Tak ada gunanya mempermasalahkan yang benar atau yang salah, atau pun memelihara pikiran buruk bahwa adanya penyerangan dari pihak tertentu karena mereka tidak suka dengan apa yang kita kerjakan. Stop segala pikiran negatif. Buang segala curiga kepada sesama rakyat Indonesia. Yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan Bhineka Tunggal Ika yang selama ini kita jaga.

Yang perlu ditekankan, Indonesia ini negara yang besar karena rakyatnya memiliki hati yang lapang dalam menerima perbedaan. Indonesia ini negara kesatuan juga karenna rakyatnya yang saling bersatu demi kemajuan dan kesejahteraan bangsanya. Mari wujudkan negara Indonesia yang rukun dan damai. Ya, kesadaran itu perlu kita rawat berkali-kali. Ingat, bahwa bangsa ini merdeka karena kita bersatu.

Segala bentuk provokasi perlu kita telaah lagi, jangan sampai kita mudah tersulut emosi. Terlebih jika kita hanya ikut-ikutan dan sebenarnya kurang mengerti akan duduk permasalahan yang sedang terjadi. Masyarakat Indonesia sudah saatnya untuk cerdas dalam bersikap. Jangan mudah dihasut dengan berita hoax yang memanas-manasi sebuah kejadian. Jangan sampai kita mudah digiring ke jurang perpecahan.

Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Yang perlu kita lakukan adalah percaya pada bangsa sendiri. Bahwa masing-masing kelompok sebenarnya tidak memiliki niat untuk saling menyakiti. Mari kita wujudkan negara yang damai, berbudaya dan menjunjung toleransi.*

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Lancang Kuning Pekanbaru