Indonesia Masih Berpeluang Masuk Rantai Pasok Global Mobil Listrik
Oleh : Redaksi
Rabu | 14-02-2018 | 08:51 WIB
motor-listrik2.jpg honda-batam
Toyota Concept-i, kendaraan listrik yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) yang dipajang di Tokyo Motor Show 2017 (Nikkei)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih optmis kalau kesempatan untuk Indonesia menjadi bagian dari supply chain global mobil listrik bisa terealisasi. Hanya saja, tinggal menunggu regulasi yang akan dikeluarkan oleh pemerintah, apakah mendukung hal tersebut.

Mengingat saat ini Thailand menjadi sorotan, soal peryataan pihak prinsipal Toyota yang siap gelontorkan investasi triliunan rupiah untuk memproduksi kendaraan listrik, setelah regulasi dan skema insentifnya resmi ditetapkn Maret 2017 lalu. Bahkan rumornya Thailand bakal menjadi basis produksi komponen penting kendaraan listrik, baterai.

Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) sedikit menampiknya. Dirinya menyebut kalau sampai saat ini Thailand masih pada tahap assembly, belum sampai pada industri.

"Jadi masih ada kesempatan, kalau regulasinya menarik pasti datang ke sini investasinya. Kesempatan masih terbuka, masih banyak, supply chain kendaraan listrik itu banyak sekali, dari baterai saja masih ada strkturnya lagi dan banyak dan lain sebagainya," ucap Warih, Selasa (13/2/2018).

Terkait komponen penting kendaraan listrik apa yang berpeluang untuk diproduksi di dalam negeri, Warih mengatakan kesemuanya memungkinkan untuk dibuat di Indonesia, walaupun pemerintah disebut lebih menginginkan baterai.

"Pemerintah berharapnya bisa melokalkan baterai, meski begitu yang pasti ketiga-tiganya (PCU, motor listrik, baterai) punya kesempatan, mungkin kita harus menyiapkannya terlebih dahulu," ujar Warih.

Warih merekomendasikan, akan lebih baik kalau Pemerintah memetakan terlebih dahulu sumber daya alam (SDA) apa yang dimiliki Indonesia, yang kemudian baru dicocokkan dengan struktur komponen kendaran listrik tersebut.

"Kalau kita bisa mencocokkan, Indonesia punya SDA 'A' misalnya dan cocok dengan komponen 'A', dan ketika Indonesia memiliki selling point itu, mungkin bisa menarik investor, oh SDA Indonesia banyak. Bisa juga membangun daerah industri khusus, perusahaan pemasok kendaraan listrik hanya tinggal datang ke sana untuk memproduksi, soal perizinan dan tenaga kerja ditangani pemerintah atau lembaga sendiri," kata Warih.

"Jadi itu bisa memberikan kemudahan kepada investor untuk melakukan lokal produksi di Indonesia, khusus untuk komponen kendaraan listrik," ucap Warih.

Sumber: Kompas.com
Editor: Udin