Ada Temuan Lumut, Masyarakat Karimun Takut Konsumsi Atarin
Oleh : Wandy
Selasa | 13-02-2018 | 18:38 WIB
air-minum-atarin-berlumut.jpg Kapolda Kepri
Air mineral kemasan merek Atarin yang berlumut (Foto: wandy)

BATAMTODAY.COM, Karimun - Terkait adanya temuan lumut di dalam air kemasan gelas plastik Atarin yang ditemui oleh pegawai Kelurahan Baran Barat ini, membuat masyarakat merasa takut untuk meminum air tersebut.

Salah satunya Boby yang merupakan masyarakat Karimun yang terkejut dengan adanya temuan kotoran lumut tersebut. Pasalnya dia merupakan pelanggan yang sering mengkonsumsi air Atarin tersebut.

"Saya selaku pelanggan terkejut dengan adanya temuan kotoran lumut yang ada dalam kemasan air atarin ini dan ternyata air kemasan tidak selalu higienis utk dikonsumsi," kata Boby kepada BATAMTODAY.COM, Selasa (14/2/2018).

Atas kejadian tersebut, Boby selaku masyarakat, berharap kepada Pemerintah Kabupaten Karimun ataupun dinas terkait untuk menyelesaikan masalah ini, agar para konsumen khususnya masyarakat awam tidak menjadi korban atas ketidak higienisan air minum kemasan tersebut.

"Pasalnya ini sudah bersentuhan dengan banyaknya masyarakat, kita ketahui juga bahwa air tersebut berasal dari Gunung Jantan yang alami yang menjadikan kebanggaan khususnya masyarakat Karimun," katanya.

"Tentunya masalah ini bisa secepatnya diselesaikan dan ditemukan apa penyebabnya dalam kemasan air tersebut kotor dan berlumut," tambahnya.

Hingga berita ini ditulis, tim BATAMTODAY.COM mencoba mengkonfirmasi ke Perusahan PT. Tritirta Argajaya namun pihaknya menolak untuk di konfirmasi.

Untuk diketahui, dulunya wisata air terjun Pongkar yang berada di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing Karimun ini berasal dari air Gunung Jantan tersebut. Bahkan, dengan derasnya curahan air terjun menjadi destinasi wisata kebanggaan Kabupaten Karimun dan membuat pendapatan masyarakat di sekitarnya menjadi meningkat.

Namun sejak sumber mata air Gunung Jantan tersebut dikelola PT Tritirta Argajaya untuk kepentingan bisnis, maka lokasi wisata air terjun Pongkar kini hanya tinggal kenangan. Air yang mengalir ke hilir hanya sebatas tetesan yang ditumbuhi semak belukar dan terurus lagi.

Editor: Udin