Menunggu Ketegasan Prabowo Jadi Capres 2019
Oleh : Redaksi
Senin | 12-02-2018 | 09:26 WIB
bergurau.jpg Kapolda Kepri
Prabowo saat bergurau dengan Anies Baswedan (Sumber foto: CNN Indonesia)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Teriakan 'Prabowo Presiden' menggema di sela peringatan 10 tahun Gerindra (10/2/2018). Ratusan kader partai berlambang kepala burung garuda meneriakkan kemantapan mendukung pemimpinnya, Prabowo Subianto kembali mencalonkan diri sebagai presiden.

Prabowo merespons dengan berusaha meredam euforia dukungan.

"Ada yang mengatakan Pak Prabowo bagaimana ini, maju enggak, capres atau tidak? Saya katakan masih lama. Pendaftaran Agustus (2018), kok sekarang ribut-ribut," kata Prabowo dalam pidato di HUT ke-10 Gerindra, di Kantor DPP Gerindra, Jakarta, Sabtu (10/2).

Usai hajatan, mantan Danjen Kopassus itu menjawab diplomatis dan terkesan malu-malu menanggapi desakan agar dirinya bertarung di Pilpres 2019.

"Yang saya tangkap harapan partai memang seperti itu. Tapi sekali lagi, yang saya pikirkan adalah demi kepentingan bangsa dan negara," kata dia.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menduga Prabowo saat ini tengah menggodok persiapan menghadapi Presiden Joko Widodo yang hampir dipastikan kembali maju Pilpres 2019. Prabowo kini kelimpungan mencari pendamping yang bisa membantu mendongkrak elektabilitas.

"Saya kira Prabowo berpikir strategis, kira-kira wakilnya siapa yang laik untuk mendampingi menghadapi Jokowi. Saya kira itu yang membuat Prabowo sedang berpikir keras," kata Ubed.

Ubed meyakini pertarungan Prabowo melawan Jokowi bakal terulang dalam Pilpres 2019. Jokowi dan Prabowo adalah dua nama yang mendominasi survei popularitas dan elektabilitas capres 2019. Pilpres kali ini menjadi pertaruhan penting terutama bagi Prabowo.

"Kan malu juga kalau (Prabowo) dua kali bertarung kalah juga," tutur Ubed.

Prabowo sebelumnya pernah maju berpasangan dengan Hatta Rajasa pada Pilpres 2014, namun kalah dari Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Itu adalah kali kedua Prabowo kalah di ajang Pilpres. Saat mendampingi Megawati Soekarnoputri di Pilpres 2009, Prabowo harus mengakui kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono.

Ubed bependapat, Prabowo kini harus bisa merawat koalisi partai yang sudah terjalin sejak Pilpres 2014, seperti dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Setidaknya, jumlah kursi di DPR dan perolehan suara nasional tiga partai itu cukup untuk mengusung calon presiden 2019-2024.

Mencari pendamping dari kolega dua partai bisa menjadi opsi bagi Prabowo

"Mungkin PKS dan PAN mesti bermusyawarah untuk menentukan siapa wakil (kader) yang pas sebagai calon wakil presiden (Prabowo)," ujarnya.

Selain itu, kata Ubed, Prabowo maupun Gerindra harus memperhitungkan suara pemilih muda ataupun pemula. Opsi menggaet tokoh muda dari sipil pun bisa diandalkan Prabowo untuk menarik suara pemilih muda.

"Artinya kalau pertimbangannya untuk menarik pemilih pemula, atau pemilih muda, maka cari sipil yang muda dan visioner, yang punya integritas," kata dia.

Lepas dari itu, fokus Prabowo di Pilpres 2019 adalah menetapkan strategi baru menghadapi Jokowi. Selaku calon petahana, kata Ubed, Jokowi sulit dikalahkan. Terlebih Jokowi punya masa kampanye lebih panjang selama lima tahun memimpin.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan seluruh kader Gerindra, dari tingkat ranting, kecamatan, provinsi, dewan pimpinan pusat, dewan pembina, dewan pakar sampai dewan kehormatan telah bersepakat mendukung Prabowo menjadi capres 2019.

Internal partai Gerindra sudah meminta langsung kesediaan Prabowo, namun belum ada jawaban dari mantan menantu Presiden ke-2 RI Soeharto itu.

"Kata 'bersedia' itu sedang kami tunggu, tapi isyarat akan maju sudah kami tangkap," ujar dia.

Sementara itu, Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria menyatakan Pilpres 2019 adalah momentum Prabowo memimpin Indonesia untuk lima tahun selanjutnya. Sehingga partai sudah jauh hari membulatkan tekad mendukung Prabowo menggugurkan dominasi Jokowi selaku petahana.

Terlepas dari dominasi Jokowi saat ini, Ubed memprediksi akan terjadi perubahan arus politik, sebagaimana yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta, ketika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok selaku petahana dikalahkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Ubed berpendapat, tak semua masyarakat diuntungkan atau menikmati pemerintahan Jokowi-JK.

Kekecewaan atas kepemimpinan Jokowi ini yang menjadi pintu masuk Prabowo memenangkan pertarungan melawan mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

"Mungkin juga akan mengalami situasi terbalik. Orang mulai jenuh pola-pola penguasa, bergeser juga ke Prabowo," kata Ubed.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Udin