Saudi Tarik Pajak, Umroh Haji Kian Mahal
Oleh : Redaksi
Sabtu | 13-01-2018 | 18:02 WIB
masjidil-haram.jpg Promo PKP
Para jama'ah haji sedang menjalankan ibadah tawaf. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Biro perjalanan haji dan umrah sedang bersiap mengantisipasi dampak kebijakan Arab Saudi terkait pemberlakuan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar lima persen yang berlaku mulai 1 Januari 2018. Meskipun sebagian pihak menilai dampaknya tak signifikan, perusahaan perlu bersiap diri mengantisipasi kemungkinan terburuk.

 

Kepala Cabang AliaGo Kebayoran Baru, Jakarta, Vivi Adil mengatakan, dampak dari kebijakan tersebut belum dirasakan. Dia mengakui, terjadi penurunan konsumen di cabangnya. Namun, itu karena faktor lain. "Kalau saya kayaknya udah dari kemarin berdampak sebelum ada masalah PPN karena harga kita tahun lalu dan sekarang gak ada perubahan yang signifikan," ujar Vivi ketika dihubungi Republika.co.id, Rabu (10/1).

Dia menjelaskan, terjadi penurunan jumlah jamaah berkisar 30-40 persen. Hal tersebut diakibatkan krisis kepercayaan masyarakat kepada biro perjalanan haji dan umrah akibat beberapa kasus travel yang tidak bertanggung jawab. Kemudian kondisi Arab Saudi yang memberlakukan visa progresif sebesar 2.000 riyal juga menjadi faktor menurunnya konsumen yang menggunakan AliaGo. Ditambah dengan tanah suci yang ditutup karena ada perbaikan sumur zamzam.

Perusahaannya belum menyinggung tentang apa langkah yang akan dilakukan ke depan terkait kebijakan PPN Arab Saudi ini. Namun, Vivi memberikan gambaran bagaimana menyiasati biaya yang naik. Biasanya manajemen menyiasati dengan mengeluarkan paket ekonomis, tapi tetap bertanggung jawab atas seluruh kenyamanan jamaah. Misalnya, mencari pesawat yang harganya tidak terlalu mahal, tetapi dengan kualitas yang bagus.

Dia menjelaskan, AliaGo memiliki paket perjalanan haji dan umrah mulai harga Rp 17 jutaan-Rp 30 jutaan. Kendati demikian, Vivi masih menunggu pembahasan dari perusahaan terkait opsi yang akan diambil pascakebijakan Arab Saudi tersebut.

Marketing Arfa Tours Riyan mengaku belum merasakan dampak dari kebijakan itu. Menurut Riyan, dampak tersebut akan bisa dilihat dua hingga tiga bulan ke depan. Untuk Januari dan Februari 2018, Arfa Tours akan memberangkatkan jamaah yang tidak kebagian tempat duduk pada November dan Desember tahun lalu.

Di samping itu, Arfa Tours juga sudah melunasi seluruh pembiayaan pada 2017 untuk pemberangkaan 2018. Karena itu, kata Riyan, secara kuantitas tidak ada pengaruh dari kebijakan Arab Saudi tersebut.

Riyan menjelaskan, Arfa Tours sendiri membagi produknya ke dalam kelas menengah ke atas dan menengah ke bawah. Ia menilai, untuk kebijakan PPN lima persen tersebut tidak akan menjadi masalah bagi mereka kelas menengah ke atas. Menurut Riyan, perusahaan harus memberikan paket promo untuk masyarakat menengah agar mereka tidak terlalu terbebani oleh dampak dari kebijakan PPN lima persen tersebut.

Ia menambahkan, Arfa Tours akan meng antisipasi dengan cara lebih mengoptimalkan pemasaran lewat onlineuntuk agar perusahaan ini tetap berjalan. Pasalnya selama ini Arfa Tours sebesar 99 persen pemasaran menggunakan digital online.

"Kita mengandalkan kualitas pelayanan. Seandainya harga diturunkan, tapi kualitas gak diperbaiki, lebih baik kita naikkan kualitas. Jamaah kita kan cerdas kalau memang mereka mendapatkan layanan bagus mereka sebanding dengan harga," kata Riyan.

Sumber: Republika
Editor: Dardani


BNN-KEPRI