Lik Khai Desak Polisi Tangkap Penculik Anak di Batam
Oleh : CR-17
Jumat | 12-01-2018 | 12:04 WIB
Lik-Khai-OK-OC.jpg Promo PKP
Anggota Komisi I DPRD Batam, Lik Khai. (Dok Batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kasus penculikan terhadap salah satu siswi SMA PR (17), yang terjadi pada Jumat (5/1/2018) kemarin, menarik perhatian anggota DPRD Batam, Lik Khai. Ia menilai kasus ini akan berlanjut jika pelaku belum ditangkap Polisi.

"Kami desak agar Polisi langsung mengamankan para pelaku, apalagi setelah mereka telah memeriksa korban dan saksi dan sudah mengantongi ciri-ciri para pelaku," kata anggota Komisi I DPRD Batam, yang membidangi hukum itu.

Ia juga mengimbau agar orangtua korban segera membuat laporan kepolisian. Hal ini tentu saja sama dengan membantu para petugas untuk dapat langsung melaksanakan kewajibannya.

"Orangtua korban juga buatlah laporan, jangan sampai nanti harus terjadi hal yang tidak diinginkan baru menyesal," ujarnya.

Adanya pernyataan ini dilontarkannya, karena menilai para pelaku penculikan PR (17), saat ini pasti merasa aman karena tidak dilaporkan pihak korban. Namun, ia mengharapkan agar nantinya para pelaku, tidak kembali melakukan aksinya terhadap korban karena tidak adanya laporan kepolisian.

"Jangan sampai dia (korban) kembali diculik lagi sama para pelaku, korban kan sudah melihat ciri-ciri pelaku jadi buatlah laporannya ke Polisi," lanjutnya.

Sebelumnya, seorang siswi yang diketahui bernama Putri Rahmi Inaya (17), diduga menjadi korban penculikan empat orang tidak dikenal. Meski barang korban tidak ada yang hilang, namun pada tubuhnya terdapat beberapa luka sayatan.

Kejadian tersebut pada Jumat (5/1/2018), berawal saat korban membonceng adik dan anak tetangganya untuk pergi sekolah di kawasan Bengkong Dalam.

Kemudian, korban melanjutkan perjalanan ke sekolahnya melewati Perumahan Bukit Union. Saat tiba di penurunan, tiba-tiba ada yang melemparinya dengan batu, sehingga korban berhenti.

Menurut keterangan korban, tiga orang turun dari mobil. Satu diantaranya langsung mrnarik helm yang dikenakan, sehingga korban sesak nafas dan lemas.

Editor: Gokli


BNN-KEPRI